BERSOLEK ALA KAMPUS

Penulis : ikahlasy anugrah marhami

Kampus kita semakin hari semakin cantik saja, bukankah begitu?

ibarat seorang perempuan yang gandrung untuk terus mempercantik dirinya, begitupun dengan kampus, setiap hari dipinggir-pinggir jalan, di trotoar, mulai dari halaman paling depan kampus kita, sampai kedalam pelosok-pelosok fakultas kita, tak henti-hentinya para pekerja memoles kampus, kampus tak henti terus bersolek. Pembenahan fasilitas, terutama pada hal-hal yang  fisik mudah kita temui- walaupun masih banyak keluhan tentang fasilitas,seperti AC yang mati dan WC yang airnya tidak jalan- mulai dengan pengecetatan dinding gedung-gedung yang sudah usang, sampai dengan pembangunan atau renovasi gedung tentu sering kita temukan. Kampus dengan gedung-gedungnya yang megah itu merupakan contoh paling kasat mata yang bisa kita amati secara saksama dan dalam tempo yang seingkat-singkatnya. Yah, setidaknya itu merupakan contoh dan gambaran bagaimana kampus dan ambisinya untuk membangun di realisasikan.

Tentu, sama halnya dengan orang-orang saat bersolek, demikian juga kampus saat bersolek tentu mempunyai maksud dan tujuannya. Jika perempuan berdandan tentu maksudnya jelas, untuk menarik lawan jenisnya, atau jika sudah bersuami tentu untuk suaminya, atau setidaknya untuk dirinya sendiri, minimal untuk eksis dan berswah foto, upload di instagram supaya kekinian. Lantas jika yang bersolek kampus, maksud dan tujuannya apa?. Tentu ada yang akan menjawab adalah semua pembangunan dan segalah hal yang dilakukan kampus ini demi dan untuk pendidikan yang lebih layak agar dapat mencerdaskan kehidupan bangs sesuai dengan amanat UU, dan tentunya untuk mahasiswa terkhusus. Namun benarkah demikian?. Mungkin pertanyaan ini sederhana, namun dibalik kesederhanaan itu ada kegelisahan yang bermunculan.

Kegelisahan ini tentunya bukan tanpa alasan, dibalik massifnya dan gencarnya pembangunan kampus, saat gedung-gedung diperluas dan dipercantik setiap harinya, ada hak-hak yang beusaha dikebiri, dan dihilangkan. Semakin luas pembangunan, semakin tinggi gedung-gedung itu dibangun, terjadi semakin banyak hak yang terjepit,dan semakin rendah kepedulian kita terhadap sesama . saya juga bukanlah orang yang benar, bukan juga orang yang pintar dan tentunya bukan juga orang yang mengerti soal teori pembangunan, namun melihat hal-hal yang tak wajar dan tidak sesuai dengan apa yang seharusnya, orang sebodoh sayapun tentunya bisa resah, bukankah begitu?.

Tentu setiap orang dalam kampus ini punya kegelisahannya masing-masing, semisal cleaning service akan gelisah jika banyak orang yang membuang sampah sembarangan dan gajinya tidak dibayarkan oleh vendornya, lain lagi dosen, jika dosen yang normal akan gelisah jika ada mahasiswanya tidak minat belajar kalupun belajar, ilmunya tak diamalkan, jika dosen yang sedikit tak normal mungkin keresahannya berputar pada gaji dan kesejahteraan perutnya. Mahasiswa lain lagi, jika ada yang lebih suka jalan-jalan ke Mall, mungkin akan resah jika dosennya memberi jam tambahan saat kuliah sehingga mengganggu jadwal ngedate nya sama si doi, atau mahasiswa yang pencari beasiswa tentunya akan resah jika IPK semester ini dibawah harapannya, yang membuatnya tak bisa mengambil beasiswa yang dia idam-idamkan. Artinya setiap manusia yang ada di kampus memilik resahnya masing-masing yang kadang sama namun kadang juga tak sama.

Namun tentu sebagai mahasiswa dan jika menilik maksud dan tujuan kenapa kampus hadir atau perguruan tinggi hadir untuk menyelenggarakan pendidIkan yang sesuai dengan  amanat  UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tentu kita berhak resah jika maksud pendidikan itu tidak tercapai, atau setidaknya mendekati tercapainya.

Pembangunan kampus sendiri merupakan upaya, bagaimana kampus berusaha memberikan dukungan untuk proses pendidikan yang lebih baik, berupa pengadaan fasilitas yang memadai suasana kehidupan kampus yang mendukung. Namun jika kita lihat pembangunan kampus kita hari ini, pembangunan yang dilakukan Cuma berkisar pada wilayah fisik semata, dan juga merupakan bangunan-bangunan yang sifatnya sekunder bukan primer, semisal bangunan didepan kampus kita yang sering di padati oleh anak-anak kekinian itu, alih-alih untuk menunjang proses pembelajaran kita untuk mencapai amanat undang-undang, pembangunan gerbang dengan tulisan nama kampus itu cuma akan menjadi objek tempat berswah foto, atau paling berguna Cuma menjadi latar untuk foto saat prosesi peneremiaan mahasiswa baru.

Padahal dibalik megahnya gedung-gedung itu, dibalik putihnya cet-cet gedung fakultas kita, atau air yang mengalir di air mancur di depan gerbang kampus, atau depan fakultas-fakultas kita, ada uang-uang kita yang kita gelontorkan setiap semesternya sebagai ongkos yang harus dibayarkan untuk pendidikan kita. untuk hal seperti itukah kemudian kita harus membayar?.

Solek yang dilakukan kampus nyatanya palsu, ibarat foto, foto yang diperlihatkan kampus adalah editan. Mengapa demikian?. Sebab seharusnya pembangunan kampus haruslah dilandasi oleh semangat untuk pendidikan itu sendiri. Yang dimana kiranya pembangunan itu ditujukan untuk terus menunjang proses pendidikan dengan memberikan kemudahan-kemudahan dalam mengakses pendidikan tersebut, namun dalam realitanya pembangunan kita tidak membawah mahasiswanya kepada kemudahan-kemudahan untuk mengakses pendidikan, atau setidaknya belajar dengan selayaknya, dalam hal ini bukan hanya fasiltas berupa hal-hal yang sifatntya fisik beleka seperti AC, gazebo dll yang sebenarnya juga sekunder , namun hal-hal lain yang sifatnya lebih primer , diantaranya:

Tenaga Pengajar

Tentu adalah hal yang sangat penting dalam sebuah pendidkan, peran dari para guru-guru yang mentrransformasikan ilmunya kepada muridnya, begitu juga dalam suatu kampus peran seorang dosen adalah sangatlah penting, namun sering kiranya kita dapati ada beberapa dosen walaupun tidak semua yang ketika mengajar seperti “asl jadi saja”. Mengapa saya katakan demikian?. Misalnya dalam satu pertemuan pada mata kuliah tertentu dalam kelas, sang dosen Cuma menyampaikan materi ini yang akan dibahas, lalu menginstruksikan membuat kelompok diskusi, kemudian minggu depan diskusi, mahasiswa berdiskusi setelah diskusi selesai pulalah segalahnya, tanpa pengarahan, tanpa penjelasan dari sang dosen tentang materi tersebut. Keadaan sepeerti terkadang membuat saya berfikir ternyata betaa mudah menjadi dosen dan kenapa saya harus membayar untuk kegiatan seperti ini, jika kuliah hanya seperti ini bahkan dikampungpun tanpa mengeluarkan uang yang banyak sayapun bisa secara mandiri melakukannya?

Ruang Alternatif

Dalam kelas kiranya sering kita dapati perkataan dosen semisal “ dalam kelas ilmu pengetahuan yang anda dapatkan Cuma 20-30%  dan sisanya anda cari di luar kelas”. Nah, poin pentingnya adalah ilmu selebihnya itu dimana dapat kita dapatkan?.

Alternatifnya diantaranya perpustakaan, namun perputakaanpun selain koleksi bukunya tidak di perbaharui, untuk mencari bukunya yang susah dan cepatnya perpustakaan tutup membuat mahasiswa yang ingin mencari buku baik untuk mata kuliah atau tugas, atau sekedar membaca saja, itu kesulitan untuk mengakses buku yang di inginkannya, padahal tempat belajar yang paling efektif salah satunya adalah di perpustakaan dengan membaca buku.

Alternatif lainnya adalah lembaga kemahasiswaan. Hal ini dikarenakan lembaga atau organisasi kemahasiswaan yang biasa kita kenal sebagai HMJ/HMD berdiri dan terbentuk memang dengan tujuan utamanya adalah untuk mengakomodir mahasiswa yang menjadi bagian pada departemen tertentu baik minat, bakatnya yang berlandaskan pada disiplin ilmunya masing-masing. Namun, kampus sendiri seolah-olah tidak serius dan kurang memberi perhatian kepada lembaga kemahasiswaan. Ada bebrapa alasan mengapa kemudian saya katakan kampus seolah-olah acuh tak acuh dengan lembaga kemahasiswaan. Seperti pemberlakuan pemberlakuan jam malam, ini merupakan bukti bahawa kampus seolah-olah acuh dengan lembaga kemahasiswaan, sebab hal ini  sangatlah berpengaruh terhadap kerja lembaga. Logika sederhananya, jika mahasiswa pada pagi sampai sore hari dituntut untuk kuliah dikelas, maka untuk kerja organisasi yang paling optimal tentu hanya pada malam hari, namun dengan alasan tagihan listrik yang membengkak dan alasan-alasan lainnya kemudian peraturan ini berusaha diterapkan.

Belum lagi dengan ruang himpunan yang sangat sempit, terkhusus dalam  lingkup Lema FISIP Unhas, yang hanya cocok untuk 3-5 orang dengan ukuran normal, ini tak ubahnya kos-kosan dengan satu penghuni kamar yang kamar mandinya diluar. Padahal ruang himpunan adalah hal yang penting untuk menunjang kegitan kemahasiswaan, diskusi, rapat dll. Padahal uang SPP kita seharusnya diperuntuhkan untuk itu semua, untuk menunjang dan membantu kita menggali ilmu-ilmu, bukan untuk pembangunan gedung-gedung yang bukan hanya tidak menunjang pendidikan namun juga mubazzir adanya.

Seandainya pembangunan kampus memang untuk dan ditujukan kepada mahasiswa, tentu dengan alasan apapun ruang alternatif seperti perpustakaan, dan himpunan sebagai upaya untuk mengembangkan potensi mahasiswa tentunya akan lebih diperhatikan, namun kembali lagi kepertanyaan semula, benarkah pembangunan ini untuk mahasiswa?. Atau soleknya kampus ditujukan untuk upaya melakukan komersialisasi terhadap pendidikan, membangun gedung indah untuk menarik para investor baik lokal atau asing, untuk ikut serta dalam proyek-proyek pembangunan kampus, dan agar korporasi tertarik untuk berinvestasi di kampus kita karena melihat gedungnya yang mengkilat itu,bukankah semakin indah gkampus akan semakin banyak peminatnya yang berarti akan semakin besar pasarnya?. atau setidaknya untuk menjadi magnet bagi calon mahasiswa baru untuk mendaftarkan dirinya di kampus kita, peduli setan SPP nya murah atau mahal sampai harus menjual sawah di kampung semisal, bukankah itu dapat termaklumkan, dengan megahnya gedung kampus kita?. Bukankah fasilitas yang bagus memang memerlukan uang yang banyak. Dan itu suatau kewajar yang kita semua harap maklumlah.

Solek ala kampus, nyata palsu. Mungkin telah tiba satnya kita menyalakan alarm tanda bahaya itu, pendidikan yang seharusnya menjadi alat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, akan terasa mustahil terwujud jika pembangunan kampus tidak ditujukan untuk mahasiswa dan pendidikan itu sendiri. Jika pendidikan masih terus dilihat sebagai komuditi yang dapat diperjual belikan, maka selamanya cita-cita dan amanat undang-undang Cuma nyanyian-nyanyian kosong belaka, sebab orientasi utamanya selamanya adalah uang dan keuntungan, kalau toh produknya menghasilkan pelajar yang cerdas, kecerdasannya tetap akan ditujukan dan akan dilacurkan kepada  pasar dan calon tuan-tuannya atau mentok menjadi sosok penindas baru.

Apa  gunanya pembangunan semakin melejit, namun mahasiswahnya sakit?

Apa gunanya gedung-gedung kita tinggi, namun pengetahuan kerdil?

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*