“Center Point of Integration; Pengaderan ialah fase Berkehidupan”

Oleh : Nursandrawali Gosul

 

Menelik Fitrah sebuah kaderisasi lembaga kemahasiswaan hari ini, sederhananya pengaderan adalah suatu proses pentransformasian nilai, etika, dan norma lembaga dalam pembentukan karakter seseorang agar sepaham dengan ideologi dan mengerti aturan-aturan yang ada dalam suatu organisasi, sehingga dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Selain itu, mandat mendidik secara konsitusional maupun secara kultural yang juga merupakan tujuan pokok pengaderan dihadirkan sebagai ruang aktualisasi diri bagi mahasiswa baru dengan mahasiswa lama dan kerap kali dilabeli dengan sapaan ‘senior’ sebagai patron pendidik.

Kaderisasi merupakan roh sebuah organisasi, kebutuhan internal yang tidak boleh tidak dilakukan. Layaknya sebuah hukum alam, ada proses perputaran dan pergantian di sana. Pengkaderan seyogyanya bertujuan untuk memproses seseorang menjadi seseorang yang lebih baik, berkapabilitas, dan berkarakter sesuai dengan konsep perubahan yang diinginkan oleh pihak yang mengkader. Namun satu yang perlu kita pikirkan, yaitu format dan mekanisme yang komprehensif dan mapan, guna memunculkan regenerasi kader berkualitas, yang tidak hanya mempunyai kemampuan di bidang manajemen organisasi, tapi yang lebih penting adalah tetap berpegang pada komitmen sosial dengan segala dimensi keilmuannya.

Pengaderan pun juga adalah perwujudan wadah (ruang) dialektis yang tidak pragmatik sehingga tidak melahirkan kader yang prematur. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Kaderisasi adalah sebuah keniscayaan mutlak membangun struktur kerja yang kolektif dan berkelanjutan.

Jadi, landasan filosofi kaderisasi yang harus mendapatkan porsi perhatian oleh setiap organisasi melalui sistem yang telah diinternalisasikan. Pada fase ini organisasi dituntut untuk dapat menjadi wadah yang secara menyeluruh mampu menemukan konvergensi yang ideal antara aktifitas berpikir (belajar) sebagai entitas mahasiswa dan aktifitas sosial sebagai pengejawantahan dari nilai-nilai tekstual-normatif. Dengan kata lain, harus ditemukan titik keseimbangan antara nilai-nilai tekstual-normatif tadi dengan realitas-kontekstualnya menuju progresifitas organisasi yang efisien dan efektif.

Namun, dewasa kini pengkaderan kian mengalami modifikasi atau malah berada pada tahap “penyalahgunaan tafsiran” dalam proses pengaktualisasiannya. Ironis memang, pengkaderan yang seharusnya dipenuhi dengan ajang aduh kualitas dan kreativitas, dalam pengembangan daya nalar kritis malah berubah menjadi ajang untuk balas dendam maupun untuk mempertontonkan kekuatan “super senioritas”. Kurangnya minat berlembaga, khususnya oleh mahasiswa baru, dipengaruhi oleh pragmatisme yang lebih menarik dari dunia luar kampus menjadikan pengaderan kekinian kian kehilangan auranya.

Lantas muncul pertanyaan sederhana, bagaimana pengaderan yang ideal bagi mahasiswa baru? Jika kita mencari bagaimana pengaderan yang ideal bagi mahasiswa baru, maka kita perlu melihat dari tujuan dan esensi dari pengaderan itu sendiri. Seperti ungkapan Paulo Frieree bahwa “Pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri”. Pengaderan seharusnya lebih menitikberatkan pada bagaimana cara memperkenalkan dunia kampus dan mengkonstruk pola pikir mahasiswa baru dengan cara yang elegan dan mendidik tentunya, bukan dengan cara yang tidak mendidik maupun memaksa.

Tetapi lebih baik dengan cara melakukan Partner Development atau mengajak musyawarah atau sharing bersama. Dengan cara ini, pengader atau “senior” juga akan mendapatkan ilmu dari sharing tersebut, artinya akan terbangun konsep Simbiosis mutualisme antar kedua pihak terkait melalui komunikasi efektif, karena kita pun tidak bisa menutup mata dengan mudah bahwa mereka yang kita sebut mahasiswa baru atau kerap diidentikkan dengan istilah “gelas kosong” dengan leluasa hati kita mampu mengisinya begitu saja tanpa melakukan cross-checking ke isi ‘botol kosong’ itu sendiri.

Solusi lainnya bisa kita ambil dari nilai-nilai luhur agamis yang universal. Ketakwaan kepada Sang Pencipta, mengedepankan dan mencintai nilai-nilai kemanusiaan, serta mementingkan penguasaan ilmu yang dipadukan dengan sikap kritis. Pun penanaman nilai Tri Darma Perguruan Tinggi juga merupakan landasan yang bijak dalam fase pengaderan Mahasiswa Baru tersebut.

Ki Hajar Dewantara berujar bahwa, “semua orang adalah guru, dan setiap tempat adalah perguruan”. Namun, tidak semua orang mampu menempatkan diri sebagai figur panutan, kebanyakan dari mereka telah cukup bangga dipanggil ‘senior’ tanpa tahu hal baik dan buruk yang mereka lakukan dalam perannya sebagai seorang pendidik. Inilah kemudian yang dikatakan pelanggengan budaya senioritas atas dasar pelabelan semata, dengan mengesampingkan esensi dari pengaderan yang hakiki.

Merubah Budaya? Budaya memang tidak bisa dirubah dengan instan, budaya hanya bisa dirubah dengan ‘keberanian’ untuk masuk serta merubah sistem yang sedang digunakan. Namun, semua bagian yang terlibat dalam proses ini harus sadar dengan akibat apa saja yang akan ditimbulkan jika tetap mempertahankan budaya yang salah. Jika kita mampu menetralisir pemikiran, bahwa kebudayaan pun ialah hasil konstruksi masyarakat atas dasar kesepakatan bersama, dengan kata lain bisa pula di ubah jika ada kesepahaman secara kolektif di dalam masyarakat itu sendiri. Kaderisasi hanya akan berjalan dan akan menghasilkan kader (mahasiswa) terbaik,  jika semua pihak ikut membantu dan mengawasi dan berperan sesuai dengan tugas, peran, dan fungsi masing – masing.

Hari ini, pengaderan seyogyanya diterapkan berbasis pada proses pendidikan kritis, memiliki posisi yang strategis, artinya rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Perlu ada perencanaan yang matang dalam organisasi agar tujuannya tercapai, salah satunya adalah melihat relevansi pola kadernisasi dengan keadaan sekarang dan kebutuhan calon kader dalam sebuah organisasi.

Bila kaderisasi baik, berarti internal organisasi tersebut baik. Bila internal kaderisasinya sudah baik, semua tujuan organisasi bisa tercapai dan bisa ekspansif ke wilayah eksternal. Proses perekrutan anggota baru, patut disadari sebagai kebutuhan yang vital. Ini menunjukkan urgensi dari proses pengaderan.

Kenapa begitu penting menata kaderisasi di tubuh organisasi? Ini yang harus kita jawab dengan lantang dan tegas agar kita memiliki arah dalam mengarungi samudra pemaknaan terhadap satu kata yakni kaderisasi. Membangun kaderisasi melalui organisasi kampus bukanlah sekadar menjalankan rutinitas kelembagaan ataupun melanggengkan kebudayan lama yang telah sepatutnya berganti seiring bergantinya zaman. Membangun organisasi layaknya merawat sebuah pohon, di mana ada tujuan akhir yang menjadi alasan organisasi ini masih berdiri, tujuan besar ini kemudian dijewantahkan untuk membangun kapasitas organisasi yang lebih baik, dan tentunya berimbas pada kaderisasi setelah itu.

Kaderisasi haruslah holistic, banyak aspek yang harus tersentuh untuk menghasilkan kader yang ideal. Dari setiap aspek, harus ada sinergi dan keseimbangan agar tiap aspek bisa menunjang aspek yang lainnya sehingga potensi sang kader teroptimalisasi. Sehingga pewarisan nilai-nilai organisasi akan terjalin dengan baik. Hingga pada akhirnya pendidikan kritis—pengaderan mampu menghasilkan manusia ‘melek’ realitas sosial.

Memaknai Pengkaderan sebagai sebuah sistem pendidikan harus mampu menjadi counter Hegemony, menjadi kekuatan penyadaran dan pembebasan umat manusia, bagaimamna kemudian kita mampu merefleksi diri, toh pengaderan ditujukan bagi orang-orang yang hidup berkeseharian dalam lingkup pendidikan. Secara sederhana, melihat pengaderan yang ideal adalah pengkaderan yang memanusiakan manusia. Bukan menghewankan manusia atau membuat manusia menjadi robot atau nyaris seperti budak. Proses pengaderan memang memberikan pemahaman baru, tapi bukan berarti dalam pelaksanaannya dengan memberikan doktrin yang memaksakan kehendak kepada seseorang secara tidak ilmiah. Pembinaan ala mahasiswa tidak membuat manusia menjadi kaku layaknya robot yang siap diperintah atau memiliki mental yang terjajah.

Pada dasarnya pengkaderan sangat penting. Bahkan dalam hidup ini sebenarnya kita melalui proses pengaderan. Mulai dari pengaderan yang dibentuk oleh orang tua kita di rumah, hingga lingkungan sekitar kita pun melakukan proses pengaderan atas diri kita sendiri secara sadar ataupun tidak. Dari kanak – kanak, remaja beranjak dewasa hingga menjelang terputusnya hubungan kita dengan dunia dan berganti ke dunia yang baru pun kita tetap mengalami fase – fase pengaderan dengan mekanisme yang beragam.

Pendek kata, jika organisasi telah mampu menjadi tempat yang nyaman bagi anggota-anggotanya, prestigeous, profesional, pastilah orang atau calon anggota baru akan berbondong-bondong masuk. We need to develop  our internal capability, prove it with our work, sell the ‘product’  and let people know it and buy it. Prosesi yang lebih baik bukan sekadar keniscayaan. Aristoteles di dalam bukunya yang berjudul La Politic bahwa “setiap imperium yang tidak mampu memberikan pendidikan bagi generasi berikutnya akan menunggu waktunya imperium itu mengalami masa kehancuran”.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*