Claude Levi’ Strauss

Claude Levi’ Strauss

(Rezki Ameliyah Arief – HI 2015)

Kata “Sepatu merah” mungkin jika ditanya kepada seseorang mungkin bisa jadi diartikan sebagai sepatu yang mempunyai warna merah. Namun dimanakah kita tahu bahwa sepatu itu disebut berwarna merah?. Bisa jadi jawabnya adalah karena mereka belajar bahasa Indonesia yang memperkenalkan warnah merah seperti apa. Dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa bahasa menentukan pengetahuan seseorang mengenai sesuatu. Dalam hakikatnya, bahasa merupakan wahana paling canggih yang memberikan manusia kemampuan untuk mengomunikasikan makna-makna kepada orang lain. Melihat pentingnya bahasa dalam kehidupan maka salah seorang antropolog yang mengkajinya adalah Claude Levi’ Stauss.

Claude Levi’ Strauss merupakan seorang yang lahir di Belgia pada tahun 1908, yang pada masa studinya di Brazil meneliti suku pedalaman di sana. Levi’ Strauss memperkenalkan paradigma baru dalam ilmu sosial yang mengkaji mengenai bahasa yang dikenal dengan sebutan Strukturalisme. Strauss mulai mendalami bahasa setelah bertemu dengan Robert Jacobson di New York yang mempelajari mengenai linguistik modern.

Strukturalisme merupakan suatu kajian mengenai bahasa sebagai penentu pikiran manusia. pemikiran ini merupakan masa peralihan dari modernisme menuju post-modernisme. mungkin sebelumnya kita telah mempelajari mengenai fungsional struktur oleh Parson. Namun apakah yang membedakan fungsional struktur dengan strukturalisme padahal keduanya sama-sama memiliki kata struktur. Namun yang membedakannya adalah satu mengkaji lebih kepada sosial dan yang satunya lagi lebih kepada linguistrik modern atau bahasa ala Saussure. Strukturalisme sebenarnya merupakan pemikiran yang menapikkan eksistensialisme yang sangat mengagungkan individu sebagai subjek yang melakukan dan menentukan kehidupan sosial.

Dalam banyak bacaan, Levi’ Strauss banyak menekankan mengenai sistem bahasa. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh tiga aspek struktur yaitu geologi, psikoanalisis, dan Marx. Pada aspek geologi, Strauss melihat kepada tatanan struktur permukaan bumi. Adanya bentuk-bentuk permukaan bumi yang berubah masa demi masa pastilah ditentukan oleh suatu sistem yang terdapat di dalam inti bumi. Hal yang ditekankan adalah bahwa terdapat pesan yang tersembunyi yang menyebabkan bumi berubah. Aspek kedua adalah psikoanalisis yang menyatakan bahwa terdapat struktur dalam diri manusia yang mengontrol perilaku (kesadaran manusia). Menurut Strauss, bahasa berasal dari dalam dimensi tak sadar pikiran manusia. Karena semua pikiran manusia bekerja dalam cara yang sama, apapun perbedaan bahasa yang nampak, semuanya pada dasarnya diorganisasi atas prinsip-prinsip yang sama. Hal ini juga berhubungan dengan pemikiran Freud mengenai alam bawah sadar manusia yang biasa dikatakan traumatik, misalnya saja hal-hal alam bawah sadar kita yang menyimpan ketakutan mengenai sesuatu, maka jika seseorang menjumpai sesuatu tersebut secara tidak sadar maka seseorang tersebut ketakutan atau menunjukkan ekspresi-ekspresi bermacam-macam yang didasarkan pada alam bawah sadarnya. Kemudian yang terakhir adalah Marx, yang mengatakan bahwa sistem sosial di dunia ini yaitu infrastruktur/basic dalam hal ini ekonomi akan mempengaruhi suprastruktur (ideologi, politik, dan sebagainya). Hal ini diperoleh bahwa misalnya dalam perilaku politik ternyata terdapat struktur atau kode tersebunyi yang menyokong perilaku politik yaitu ekonomi atau aspek material.

Pemikiran Levi’ Strauss ini juga dipengaruhi oleh Ferdinand de Saussure yang juga membahas mengenai bahasa. Dalam pemikiran Saussure banyak menjelaskan mengenai klasifikasi bahasa. Yang pertama adalah tanda yang terdiri dari petanda dan penanda, mungkin agak sulit membedakannya, namun petanda adalah citra mental atau konsep sesuatu yang masih dalam pemikiran kita, sedangkan penanda adalah citra fisik atau materi yang telah secara objektif dilihat melaui indera. Kedua, yaitu langue dan parole. Langue adalah sistem bahasa, baik berupa kata-kata atau kalimat yang telah diajarkan, sedangkan parole adalah tuturan atau ujuaran baik berupa bunyi dan digunakan manusia untuk bertutur satu dengan yang lainnya. Ketiga adalah sinkronik dan diakronik. Sinkronik adalah tata bahasa kekinian, yang mengedepankan kata itu sendiri tanpa mengetahui hakikat kenapa kata atau bahasa tersebut ada, sedangkan diakronik adalah tata bahasa yang menekankan pada sejarah dan asal usul mengapa bahasa tersebut ada dan digunakan secara umum untuk menyebut sesuatu. Keempat  adalah sintagmatik dan paradigmatik. Sintagmatik merupakan tata bahasa yang mempunyai hubungan dengan kata sebelumnya, sedangkan paradigmatik tidak mempunyai hubungan seperti sintagmatik, misalnya Ibu sedang membaca di rumah, sedangkan Ari sedang pergi ke bioskop. Itu merupakan dua tingkat kalimat yang tidak ada hubungannya antara ibu dan Ari. Selanjutnya yang terakhir adalah bentuk dan isi. Bentuk merupakan wadah atau media yang tidak bisa diubah, sedangkan isi merupakan hal yang dapat berubah.

Aliran strukturalisme baik Saussure maupun Levi’ Strauss menimbulkan sebuah istilah yang disebut oposisi biner. Oposisi biner ini menyatakan bahwa pembedaan sesuatu tidak hanya lahir secara kultural, tetapi juga merupakan produk-produk budaya, serta sistem penandaan di otaknya.  Misalnya saja pembedaan mengenai laki-laki dengan perempuan. Hal ini didasari dari produk budaya yang mengontruksi pemikiran manusia kebanyakan mengenai laki-laki merupakan makhluk maskulin yang dicirikan dengan kuat ataupun berwibawa, sedangkan perempuan meruapkan makhluk yang feminim yang lemah dan lembut. Namun dalam bukunya sendiri Levi’ Strauss memberikan kritik dirinya sendiri mengenai oposisi biner, dengan ditandai bahwa ternyata ada feminim yang lebih maskulin.

Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa pemikiran dari Claude Levi’ Strauss adalah apa yang utama dalam suatu analisis sosial, menurutnya, adalah bagaimana menemukan ‘kode tersembunyi’ yang ada di balik yang terlihat oleh indera mata. Kode tersembunyi itulah yang dinamakan sebagai struktur. Tindakan individual dalam ruang dan waktu hanyalah suatu kebetulan belaka, karena terdapat sistem dari dalam yang mengatur tindakannya yang dalam pembahasan ini adalah bahasa.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*