KKN; Sebelumnya Penasaran, Setelahnya Dirindukan

Tulisan ini bukan bermaksud ingin menceritakan kisah percintaan seseorang atau beberapa orang seperti Cerpen atau Novel, apalagi tulisan yang berkaitan dengan teori-teori yang membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Ini bukan soal melakukan redefinisi atau reinterpretasi terhadap sesuatu yang kita ketahui atau kita alami, karena ini soal yang mudah sebab hanya mencoba mengingat kembali kejadian-kejadian yang telah dialami dan sejujurnya itu menjadi kenangan indah. Kenangan-kenangan indah itu tentu banyak sekali dalam kehidupan seseorang apalagi seorang Mahasiswa namun yang menarik disini ketika kenangan indah itu didapatkan setelah mengikuti masa berdedikasi atau sederhananya yang biasa kita kenal dengan istilah KKN (Kuliah Kerja Nyata).

Sebagaimana mahasiswa pada umumnya, tentu diwajibkan mengikuti program Kuliah Kerja Nyata ( KKN ) atau semacamnya, begitupun saya yang menjadi mahasiswa hampir 4 tahun menginjakkan kaki di kampus. Awalnya saya tidak begitu tertarik untuk mengikuti KKN, makanya sebelumnya saya menunda untuk mengikuti program tersebut. Saya mendengar cerita-cerita dari teman-teman yang telah mengikuti program KKN ini kesimpulannya kebanyakan katanya kita lebih banyak memiliki waktu kosong—intinya membosankan. Namun karena ini merupakan program yang harus diikuti maka tidak alasan bagi saya untuk tidak mengikuti program tersebut.

Tibalah waktunya pendaftaran KKN di bulan yang kebanyakan mahasiswa sibuk mengikuti aktifitas perkuliahan. Sangat berbeda jauh dengan aktifitas saya yang makin hari makin tidak jelas, mungkin beginilah nasib mahasiswa tingkat akhir yang malas untuk mengerjakan proposalnya yang berimbas pada kehidupannya yang kian terasa hampa. Singkat cerita setelah melalui berbagai proses, saya memutuskan untuk memilih lokasi KKN di Provinsi Gorontalo karena saya cukup penasaran dengan daerah yang satu ini dan juga sebagai wujud kekecewaan dibatalkannya pelaksanaan KKN di Kota Makassar. Akhirnya berangkatlah saya ke Provinsi Gorontalo bersama dengan 39 orang lainnya yang mayoritas tidak saya kenal. Saya ditempatkan di sebuah Desa bernama Sigaso Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara, di lokasi ini saya beserta 14 orang lainnya, 2 orang Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) keduanya merupakan jurusan pertanian di kampusnya sedangkan 12 orang lainnya adalah teman sealmamater yang terdiri dari berbagai fakultas.

Kurang lebih 2 bulan saya melaksanakan KKN di Gorontalo, ada beberapa hal yang menarik menjadi kesimpulan saya antara lain bahwa program KKN yang saya ikuti yang disebut KKN tematik kebangsaan. Ini sangat menarik karena memberikan banyak pengalaman berharga—mungkin selain lokasi yang jauh, juga pertemuan dengan masyarakat yang sangat berbeda latar belakangnya dengan kita yang berasal dari Sulawesi Selatan. Masyarakat di Desa Sigaso ini mayoritas beragama Islam dan kebanyakan bekerja sehari-hari sebagai petani. Di desa ini, bisa saya katakan surganya Pohon Aren. Bahasa yang digunakan sehari-hari di Desa ini yaitu bahasa lokal yang kebanyakan orang menyebutnya bahasa Atinggola. 2 bulan saya berKKN di desa ini namun hanya 4 kata dari bahasa lokal yang saya ingat, misalnya Bisajo ( bisa), Iyoe (iya), Ngoni (kalian), dan Ngana (kau). Begitu sulitnya saya memahami bahasa lokal tersebut.

Masyarakat yang saya temui kebanyakan ramah apalagi urusan perut. Selalu saja ada undangan menyantap makanan atau minuman lokal untuk kami. Seperti misalnya Ilabulo’, Soba, Apang colo, dan lain-lain. Jikalau ingin tahu semua tentang hal ini, maka caranya jadikan Desa Sigaso menjadi Destinasi wisata anda .

Selain makanan dan minuman Ada juga Pantai Minanga yang masih berada di Kecamatan Atinggola tetapi letaknya bukan di Desa Sigaso cukup bermodal kendaraan kita bisa menikmati estetikanya, pantai ini memiliki pemandangan indah memiliki pasir putih dan ombak laut yang menyapu, menerpa pasir di pinggir pantai ketika datang, bisa dibayangkan pantai ini merupakan salah satu pantai di ujung utara pulau Sulawesi. Di Desa Sigaso juga memiliki air terjun yang sangat menarik yang berjarak menempuh perjalanan yang cukup jauh tapi tetap mata kita akan dimanjakan oleh pemandangan pegunungan indah yang bertabur pepohonan yang hijau. Jika penasaran, maka saya hanya ingin mengatakan “berkunjunglah ke Bumi Hulontalo khususnya Desa Sigaso Kecamatan Atinggola tempat saya berKKN”. 14 orang rekan saya di lokasi KKN juga seru diajak bergaul, kami begitu akrab satu sama lain, kami sama-sama susah, sama-sama juga senang. Kami sama kerja apalagi sama santai meskipun berbeda latar belakang terutama berbeda disiplin ilmu, beda karakter tapi tetap bisa bekerjasama satu sama lain demi terlaksananya program kerja yang kami rencanakan dan paling berkesan ketika kami sama-sama membangun sebuah jembatan di dalam hutan meski harus mengorbankan kulit untuk terkena cahaya matahari kadang pagi, kadang siang bahkan sampai sore, jembatan ini disana disebut platdeucker entah seperti apa tulisan sebenarnya. Kami membangunnya dari nol hingga bisa dipergunakan oleh masyarakat Desa setempat bisa saya katakan menciptakan dari tiada menjadi ada jembatan tersebut.

Masalah yang kami temukan di Desa Sigaso salah satunya ialah tidak tercatatnya  sebagian pernikahan warga Desa di kantor urusan agama setempat yang berarti tidak memiliki buku nikah maka dengan hal itu kami melaksanakan proram sosialisasi tentang kepemilikan dan kegunaan buku nikah/akta nikah. Alhamdulillah kegiatan tersebut terlaksana. Selain itu kami melakukan pendataan terhadap warga Desa yang tidak memiliki buku nikah hasilnya ada 23 pasangan suami istri yang tidak memiliki buku nikah. Sebenarnya kami berencana untuk mendaftarkan 23 pasangan suami istri itu untuk mengikuti itsbat nikah (permohonan pengesahan nikah yang diajukan ke Pengadilan Agama agar nantinya  warga Desa ini bisa mendapatkan buku nikah apabila memenuhi persyaratan). Namun niat baik itu tidak cukup untuk mencapai tujuan baik, kami memiliki kendala anggaran dan kami lambat berkoordinasi dengan Pemerintah setempat dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara yang memiliki program itsbat nikah.

Seperti itulah ketika harapan tidak menjadi kenyataan. Tetapi saya kembali berharap semoga ada orang yang dermawan bersedia untuk membantu warga desa tersebut atau setidaknya 23 pasangan suami istri itu nantinya diikutsertakan pada program itsbat nikah pemerintah selanjutnya yang datanya sudah kami serahkan ke Pemerintah Kabupaten setempat. Tentu semua kenangan indah ketika saya ber-KKN tidak akan mampu tersampaikan semua dengan tulisan ini. Terakhir bagi teman-teman yang akan segera ber-KKN Semoga sukses berdedikasilah Demi almamater, demi rakyat, demi bangsa, demi negara, dan demi Kemanusiaan. Teringat oleh apa yang dikatakan oleh Pramoedya ananta toer ‘’Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah’’.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*