MENGAPA HARUS UANG?

Oleh: Abdul Masli

Berangkat dari sebuah opini tentang “Lembaga Mahasiswa: Dahulu Revolusioner, Sekarang Event Organizer”. Tulisan dari Ahmad Chaidir Ali yang melukiskan bahwa pergerakan mahasiswa kini seakan bergeser dari pengembangan keilmuan dan lain sebagainya. Tulisan yang dalam kepala saya ketika pertama kali membacanya, adalah sebuah tantangan bahwa persoalan itu berasal dari keinginan akan uang. Selain itu, pikiran saya juga terarah kepada bagaimana kondisi pendidikan hari ini?. Oleh karena itu, akan mencoba mengulas sebuah opini sederhana mengapa harus uang kaitannya dengan kondisi pendidikan hari ini.

Pendidikan yang dibangun untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita berdirinya bangsa Indonesia, kini seolah berbalik arah hanya karena persoalan materi. Persoalan yang dalam bahasa diskusi kaum-kaum mahasiswa sering diistilahkan dengan persoalan kapital. Saya sendiri heran, kenapa mereka sering identikkan dengan hal itu, mungkin karena mereka sering dengar kata kapitalisme. Tapi penulis coba sederhanakan lagi dengan kata uang saja. Pembaca tidak usah merah matanya, atau pikirannya melayang. Karena penulis hanya akan mencoba menuliskan analisa sederhana yang terjadi saat ini, seolah-olah pendidikan hanya milik mereka yang punya uang, kemudian menganiaya mereka karena banyak kaum yang dikategorikan ekonomi rendah tidak dapat menerima pendidikan. Hal yang pasti silahkan simak tulisan sampai akhir, agar anda mengerti maksud dari tulisan ini dan tidak ada pemaknaan yang terkesan terburu-buru kemudian menyesatkan. Semoga urain pendapat berikut bisa menjadi ajakan dan membangun kesadaran kita bahwa uang bukanlah segalanya.

Sengaja saya mengankat judul mengapa harus uang, karena pendidikan hari ini seolah bergeser dari hakikatnya. Pendidikan yang seharusnya menjadikan manusia mengenali realitas diri dan lingkungannya. Pendidikan yang seharusnya menghumanisasi sesuai dengan pandangan Paulo Freire, justru terjadi sebaliknya yakni pendidikan hari ini seperti dominan kepada mendehumanisasi. Hal tersebut terjadi hanya karena persoalan materi (uang). Uang membentuk pribadi warga negara menjadi pengingkar, melupakan cita-cita negara yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Negara seakan lari dari tanggung jawab, untuk menjamin hak warga negara mendapat pendidikan yang layak, maka jangan heran ketika kita banyak menemui permasalan konflik atau sikap warga negara yang lari dari tanggung jawab terhadap negara karena merasa haknya tidak dipenuhi

Sebagai bukti, marilah kita melihat data angka putus sekolah di negeri ini. Menurut data dari UNICEF tahun 2015 angka putus sekolah di Indonesia mencapai 2,5 juta anak Indonesia tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (Yulianisa Sulistyoningrum, 2015). Angka yangcukup besar dan mengherankan. Namun yang perlu kita ketahui, bahwa salah satu faktor penyebab angka putus sekolah itu dipicu karena persoalan ekonomi. Padahal kita sebagai warga negara selayaknya mendapatkan itu, dan wajib berbagi kepada sesama. Saat ini, sulit untuk menemui sosok yang rela mengabdi kepada negara, tanpa ada selembar kertas bernilai. Bukan bermaksud kita tidak mau uang, tapi disini kita mestinya sadar, jika memang sangat tidak memungkinkan seseorang untuk membayar, dan kita bisa membantu kenapa tidak? Uang bukalah segalanya, dibandingkan berbagi pengetahuan dan ilmu kepada sesama.

 

Apa Kabar Tri Dharma?

Selanjutnya marilah kita mengintip kondisi pendidikan di perguruan tinggi. arena yang dihuni oleh banyak golongan, mulai dari mahasiswa, dosen, staf dan lain sebagainya. Mereka merupakan golongan yang semestinya sadar bahwa ada sebuah janji ataupun pedoman mereka sebagai kaum yang bergelut di arena perguruan tinggi. pedoman tersebut adalah tri dharma perguruan tinggi. tri dharma atau kalau kita istilahkan dalam bahasa sosial pranata. Yakni tata aturan ataupun benang merah yang seharsunya menata tata kehidupan orang-orang yang berada di dalamnya, terkhusus mereka yang berada di Indonesia. Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, serta Pengabdian kepada Masyarakat. Itu;ah ketiga poin dari tri dharma yang mesti kita wujudkan bersama. tapi, apa kabar ketiga point tersebut? Melihat kondisi hari ini, yang semakin menyampingkan berbagai persoalan penting dan filosofis karena uang. Mari kita ulas bersama, kondisi implementasi tridharma di tengah gejolak hegemoni uang.

Uang seolah memudarkan hakikat perguruan tinggi, yang sejatinya haruslah memperhatikan tri dharma perguruan tinggi.marilah kita menyimak uraian dari implementasi tri dharma perguruan tinggi berikut. Pertama, tentang pendidikan dan pengajaran. Perguruan tinggi selayaknya menyelenggarakan sebuah proses belajar mengajar. Tentunya bukan sekedar membaca menulis dalam sebuah ruang yang diisi deretan kursi, meja, papan tulis maupun media canggih lainnya. Perguruan tinggi selayaknya menuntut kompetensi seluruh komponen kampus baik itu dosen, staf dan mahasiswa yang notabenenya sebagai pusat perhatian dan identitas utama sebuah perguruan tinggi.

Proses pendidikan dan pengajaran di Universitas kini seakan-akan mulai mengarah kepada hal-hal yang praktis semata. Pendidikan kini menggiring para kaum pelajar ke arah orientasi kerja semata. Bukan untuk menyadari dirinya sebagai sosok untuk membawa perubahan pada diri dan lingkungannya. Ini tentunya bukan sekedar bualan, faktanya ada banyak generasi muda kita saat ini ketika kita tanyai apa rencanamu kedepan setelah lulus kuliah, tak lain dan tak bukan sebagian besar jawabannya adalah mencari kerja, dan selebihnya lanjut ke jenjang pendidikan selanjutnya. Kemudian yang paling miris, ketika kita menanyai tentang respon mereka terhadap organisasi maka jawabannya organisasi sebagai ajang mencari pengalaman untuk dunia kerja kedepannya. Permasalahannya disini bukan pada kerja semata, tapi efeknya kedepan tentunya berarah kepada uang. Kemana hakikat pendidikan yang seharusnya mengutamakan pengembangan diri dan kualitas individu demi kepentingan negara? Ataukah mungkin asusmsi saya benar, bahwa kita dituntut dari awal sekolah hanyalah untuk menjadi pekerja dimasa yang akan datang, untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin?.

Jika hal tersebut terjadi, maka jangan harap negara ini akan menuai kemajuannya dimasa depan. Yang ada hanya akan tercipta generasi yang menjadikan pendidikan sebagai batu loncatan, tanpa memperdalam keilmuannya. Kemudian tunggulah saat yang akan mengejutkan, angka pengangguran yang sulit teratasi, karena pendidikan yang harusnya meningkatkan kualitas individu dan mampu mendalami bidang keilmuan mereka selama menmpuh pendidikan itu, tertutup karena orientasi pemikiran kepada proses mencari uang di masa depan.

Kedua, penelitian dan pengembangan. Perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan juga mengembang tugas untuk menyelenggrakan aktivitas penelitian dan pengembangan potensi negara untuk kesejahteraan rakyat tentunya. Kampus yang didalamnya diisi oleh kaum akademik. Berbagai gelar melekat pada mereka, mulai dari sarjana, master, doctor hingga professor sekalipun. Inilah perguruan tinggi, dunia nyata yang dihuni oleh orang-orang hebat dan berkompeten. Arena yang di dalamnya dapat dijumpai para ahli eksakta hingga bidang sosial humaniora sekalipun. Namun mengapa kondisi hari ini seakan nusantara, seakan kekuarangan kaum seperti mereka? Jawabannya singkat saja, bahwa institusi hari ini melakukan penelitian sangatlah sulit menjumpai orang-orang yang benar-benar ikhlas melakukan dengan hati nurani. Tentu saja, siap juga sih yangtidak butuh biaya operasional? Hehehe. Penelitian hari ini banyak yang lebih tergeliat pada uang semata, sementara hasil yang ada belum seimbang dengan prosesnya. Wajar sajalah kalau orang butuh uang, tapi marilah kita coba seimbangkan antara hak dan kewajiban kita.

Ketiga, pengabdian kepada masyarakat. Para warga di perguruan tinggi selyaknya dituntut untuk dapat mengabdikan dirinya bagi masyarakat. Pengabdian yang tentunya minimal mampu menerapkan keilmuannya demi kesejahteraan masyarakat. Ada begitu banyak cara untuk mengabdikan diri kepada masyarakat, missal relawan dibidang literasi, kesehatan dan lain sebagainya. Sebagai contoh gerakan ekspedisi nusantara jaya, sebuah kegiatan pengabdian dengan mengunjungi pulau terluar nusantara. Gerakan literasi yang dipelopori oleh pemuda dari mandar, perahu pustaka. Hingga gerakan Indonesia mengajar, dan lain-lain. Pengabdian bukan sekedar ketika kita berada di bangu kuliah, melainkan ketika kita selesai di bangku kuliah. Sebauh perguruan tinggi slayaknya menanakan hal tersebut, agar jiwa-jiwa sosialis para manusia Indonesia sadar bahwa negeri mmbutuhkan manusia yang ingin mengabdi, bukan sekdar pencari kerja dan memperkaya diri sendiri.

Namun uang kini justru meutar balikkan keadaan. Salah satu yang paling terkena imbasnya adalah Mahasiswa. Mereka yang senantia ditandai pengabdiannya dalam sebuah pergerakan justru berubah kepada bentuk hura-hura semata. Uang seolah memunculkan kuasa, membungkam pergerakan mahasiswa. Menjadikan perjuangan mereka hanya sandiwara, menghianati diri mereka sendiri. Menjadikan mereka bukan sosok revolusioner sejati, melainkan kaum event organizer, yang senang terhadap kegiatan hura-hura. Mahasiswa kini disibukkan dengan proker organisasi yang terlalu ingin mewah, namun ujung-ujungnya harus mencari uang. Kadang saya bertanya bagaimana cara mereka berpikir?. Bukankah, mahasiswa seharusnya melakukan kegiatan untuk mencerminkan sebuah pengabdian kepada masyarakat?. Semoga pertanyaan saya ini mampu terjawab nantinya.

Intinya bahwa, kondisi pendidikan hari ini sungguh sangatlah memprihatinkan. Banayak dari kita yang mulai lupa hakikat pendidikan yang sesungguhnya. Kita seakan malas untuk memperbaiki kualitas diri. Pikiran hanya orientasi kerja, yang akhirnya berdampak kepada permasalahan kesejahteran negara. Padahal sesungguhnya kita terlebiuh dahulu harus memperbaiki kualitas diri, meningkatkannya agar mampu menjadi inovatif, demi terwujudnya kaum-kaum yang mampu memberi solusi bagi negara. Karena uang bukanlah segalanya, pada intinya adalah kita mau bergerak untuk kemajuan negara. Marilah kita menumbuhkan kesadaran, untuk menghentikan gejolah hegemoni uang, salah satunya dengan mencoba dari diri sendiri. Karena semua persoalan dunia tak harus berbicara uang.Tetapi kita mestinya berbicara mengenai manfaat kedepannya.

 

Sulistyoningrum, Yulianisa. 2015. UNICEF: 2,5 Juta Anak Indonesia Putus Sekolah. Dapat diakses pada http://kabar24.bisnis.com/read/20150623/255/446327/unicef-25-juta-anak-indonesia%20putus-sekolah-tanggal akses 24 Oktober 2016, pukul 12.31 WITA.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*