“Pembelajaran Transformatif : Jalan Alternatif Pendidikan Hari Ini”

Oleh : Rakhmat Nur Adhi

 

“Jika ibadah adalah tiang agama, maka pendidikan adalah tiang kehidupan”. unknown-

 

Manusia siapa pun, sebagai apapun, dimana dan kapan pun berada, berhak dan butuh atas pendidikan. Manusia sebagai objek pendidikan adalah manusia dalam perwujudannya sebagai individu yang menjadi bagian integral dari masyarakatnya. Dua sisi perwujudan ini dipandang penting dan perlu untuk diproses dalam sistem pendidikan, agar dikemudian hari manusia dapat menemukan jati dirinya sebagai manusia. Berulangkali dinyatakan bahwa tanpa pendidikan, manusia tidakmungkin bisa menjalankan tugas dan kewajibannya didalam kehidupan, sesuai dengan hakikat asal-mula dan hakikat tujuan hidupnya. Sehubungan dengan hal itu pendidikan secara khusus difungsikan untuk menumbuhkembangkan segala potensi kodrat (bawaan yang ada dalam diri manusia).

Salah satu wadah pendidikan yang diharapkan dapat menjadi penghasil manusia-manusia unggul adalah perguruan tinggi. Harapan besar selalu diberikan untuk orang-orang yang mengenyam pendidikan didalamnya dalam hal ini mahasiswa. Pendidikan tinggi memiliki posisi strategis dalam pembangunan bangsa. Sesuai dengan misinya, lembaga pendidikan tinggi menghasilkan lulusan yang handal dan berkualitas IPTEKS yang berdaya guna dan berhasil guna. Lulusan yang berkualitas akan menentukan bangsa. Di era knowledge based economy, dimana kita tidak lagi mengandalkan sumber daya alam, tetapi pada inovasi dan kreativitas dan sumber daya manusia. IPTEKS yang handal menjadi jawaban atas persoalan-persoalan crucial seperti kelangkaan energi, pencemaran, kerusakan lingkungan, krisis pangan, dan sebagainya. Sebagai bagian dari misi pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi harus menjadi pusat pemikiran (center of thought) bukan hanya dalam merespon persoalan-persoalan bangsa seperti kegagalan otonomi, merosotnya karakter bangsa, tetapi juga menjadi trend setter dalam pemikiran kritis dan konsep dalam berbangsa dan bernegara.

Namun pada kenyataannya sifat kritis yang harusnya dimiliki mahasiswa bisa dikatakan kurang tajam lagi. Mengapa demikian ? penelitian Christopher Bjork mengungkap bahwa para guru di Indonesia cenderung lebih mengutamakan peran mereka sebagai pegawai negeri ketimbang sebagai pendidik. Mereka lebih memusatkan perhatian pada penyelesaian kurikulum yang di desain di ibu kota, sebab tindakan ini dianggap sebagai tanggung jawab professional yang utama, yang berdampak pada kenaikan pangkat. Improvisasi kreatif yang membuat guru mengabaikan tanggung jawab ini, sebaik apapun, sulit mendapat dukungan sistem pendidikan nasional. Kebiasaan ini masih terus terbawa di masa otonomi daerah ketika mereka punya wewenang cukup besar untuk menyusun kurikulum muatan lokal. Inovasi baru untuk meningkatkan “partisipasi” guru terhambat oleh struktur/ mekanisme lama tentang kenaikan pangkat.

Di sisi lain, pengertian masyarakat umum tentang orang muda masih berwatak paternalistik, yaitu menganggap orang muda harus selalu diajari dan diawasi. Pandangan ini sangat jelas terejawantahkan di sekolah, dimana segala macam aturan dibuat agar pelajar menjadi patuh baik secara fisik maupun kognitif. Kondisi ini menciptakan masyarakat yang secara umum menganggap orang muda sebagai “anak-anak” yang belum mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab untuk diri mereka, sehingga selalu membutuhkan orang lain untuk melakukannya buat mereka.

Salah satu solusi alternatif telah digagas oleh Jack Mezirow seorang guru besar di Teachers College Columbia University, Amerika bersama rekan-rekannya yang diberi nama pembelajaran transformatif. Secara sederhana pembelajaran transformatif di definisikan sebagai sebuah proses dimana seseorang mengalami kerangka acuan berfikir (frame of reference). Kerangka ini menentukan apa  yang diketahui dan bagaimana orang mengetahui. Seorang yang mengalami perubahan jenis ini berarti memperoleh kemampuan untuk melakukan refleksi kritis terhadap asumsi-asumsi, kepercayaan, nilai-nilai, dan perspktif yang melekat pada diri sendiri maupun pada orang lain. Namun proses ini tidak hanya melibatkan operasi kognitif dan rasional, tetapi juga melibatkan pergerakan emosional. Fenomena ini tidak dapat diajarkan tetapi harus dialami, sehingga peran pendidik terbatas sebagai fasilitator dan pemantik bagi berlangsungnya proses ini. Akhirnya dalam proses ini, individu bertransformasi menjadi pembelajar yang bisa mengarahkan dirinnya sendiri, kritis, dan mampu berfikir secara otonom.

Bagi mezirow, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan refleksi-diri kritis (critical self-reflection). Agak berbeda dengan pedagogi kritis ala Paulo Freire, yang lebih mengarah kepada pandangan kritis dalam aras kelas sosial. Bila Freire menekankan pada bagaimana peserta didik memahami adanya penindasan kelas penguasa terhadap yang tertindas, maka Mezirow tidak hanya membatasi pada pemahaman itu. Mezirow menyarankan untuk mengevaluasi, atau mempertanyakan secara kritis segala hal termasuk mengevaluasi cara berpikir diri sendiri (termasuk cara belajar kelas).

Walaupun demikian, keduanya berupaya membongkar asumsi-asumsi, kepercayaan, nilai-nilai, dan perspektif yang telah sekian lama diterima begitu saja. Keduanya bergerak melampaui pendidikan bertabiat hafalan, perolehan keterampilan fisik, atau sekedaar kemampuan baca-tulis nonkritis. Mereka sama-sama menyarankan bahwa transformasi adalah perubahan cara manusia mencercap realitas, dan dengan demikian menjadi lebih reflektif, inklusif, toleran terhadap pandangan lain namun tetap kritis. Mereka menumbuhkan dan menyebarkan kesadaran kritis, pembebasan, dan pemikiran otonom, berlangsung di arena sosial dan bicara tentang pendidikan orang dewasa.

Transformasi memang pada dasarnya adalah sebuah proses atau peristiwa perubahan diri, sehingga yang paling menentukan adalah diri sendiri, diri orang yang bersangkutan, bukan orang lain. Karena itu perubahan diri merupakan inti dari proses transformatif learning. Artinya, transformasi mempersyaratkan upaya, kesadaran, dan kesengajaan dari seseorang yang bersangkutan. Upaya tersebut diistilahkan dengan refleksi atau renungan, yaitu sebuah proses dan kemampuan memonitor, mengevaluasi, dan mengarahkan diri. Makin kuat kemampuan tersebut, makin profesional seseorang dalam melaksanakan suatu tugas. Sebaliknya makin lemah kemampuan tersebut pada diri seseorang, makin kurang profesional seseorang dalam melaksanakan tugas apa saja. Substansi ini oleh Flavell (1992) disebut metakognisi dan menurut hasil penelitian Moedzakir (1998) substansi tersebut mantap keberadaannya pada seseorang yang memiliki filosofi pribadi yang kuat dan relevan dengan pekerjaannya. Hal ini ternyata juga sejalan dengan pandangan Elias & Merriam (2005) dan Merriam & Brockett (2007).

 

Transformasi berkenaan baik dengan individu, komunitas ataupun organisasi. Daszko, Macur & Sheinberg (2004) menyatakan bahwa transformasi bermula dari pemahaman yang mendalam terhadap suatu pengetahuan. Dengan pemahaman semacam itu individu memberi makna baru terhadap kehidupan, peristiwa, dan interaksinya dengan orang lain. Begitu seseorang memahami suatu pengetahuan secara mendalam, dia segera mengaplikasikan konsep, prinsip ataupun prosedur pengetahuan tersebut pada setiap interaksinya yang sepadan dengan orang lain. Earley (2004) bahkan memaknai transformasi individu sebagai transformation of consciousness (transformasi kesadaran).

 

Yang diaplikasikan kedalam suatu tindakan sosial. Dalam pemahaman yang seperti ini, transformasi bisa mencakup bidang-bidang lain yang lebih luas, termasuk unsur-unsur psikoterapi, spiritual, dan sosial. Bahkan selanjutnya transformasi juga bisa mencakup konsep-konsep kapasitas sosial dan psikologis ke arah tujuan-tujuan kasih sayang, harapan hidup, semangat, dan persahabatan.

Berdasarkan pengertian pokok tentang transformasi di atas, dapat dikatakan bahwa pembelajaran transformatif adalah pembelajaran yang mampu menghasilkan perubahan pada diri peserta didik. Pembelajaran yang tidak memberikan dampak perubahan mendasar pada diri peserta didik dengan demikian sulit disebut sebuah pembelajaran transformatif.

Secara singkat belajar dapat diartikan sebagai upaya untuk mengembangkan potensi diri sendiri. Potensi yang diubahnya bisa pengetahuan, keterampilan, ataupun sikap. Cara untuk mengubah bisa berupa upaya menghafal, memahami, mencermati, mengkritisi ataupun menalar suatu hal, bisa berupa melatih diri untuk menguasai keterampilan tertentu, membiasakan diri untuk melakukan sesuatu ataupun menyadari hakikat sesuatu nilai. Apabila dikaji lebih lanjut, belajar pada dasarnya adalah peristiwa psikhis, perubahan kemampuan, upaya aktif, kegiatan manusia, sebuah proses, bahkan kebutuhan.

 

Daftar Pustaka :

Suhartono, Suparlan. 2006. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta. Ar-Ruzz Media

Hadi, Sudharto P. 2014. Pergulatan Pemikiran Tentang Pendidikan Tinggi. Yogyakarta. Thafa Media

Sirimorok, Nurhady. 2010. Membangun Kesadaran Kritis Kisah Pembelajaran Partisipatif Orang Muda. Yogyakarta. INSISTPress

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*