Peran dan Gerakan Mahasiswa di Era Millenials

Pada perjalanannya peran pemuda khususnya mahasiswa sangat berpengaruh besar dalam membangun sebuah bangsa atau negara. Selain memiliki semangat juang yang tinggi mahasiswa juga dikenal memiliki power untuk menjadi penghubung antara rakyat dan penguasa.

Mahasiswa adalah corong atau tempat bagi rakyat untuk menyampaikan keluh kesah dan aspirasinya. Selain itu ia juga punya tanggung jawab dalam melanjutkan tongkat estafet dan cita cita perjuangan para founding father.

Sejarah kita mencatat bahwa perjuangan dan perlawanan bangsa ini dipelopori oleh para kaum muda yang bergelar terpelajar atau mahasiswa. Sejarah mencatat bahwa perjuangan dan perlawanan terhadap para koloni penjajah di negeri ini, dimulai  ketika Budi Utomo yang di isi beberapa anak muda terpelajar yang belajar di Stovia itu, berhasil menjadi embrio perlawanan.

Kita bersepakat bahwa Tahun 1908 menjadi start awal sekaligus pertanda bahwa narasi perjuangan saat itu telah dimulai. Semangat juang kaum terpelajar membuka mata dan keinginan rakyat yang sudah lama dipendam. Dari sana, impian tentang Indonesia merdeka menemukan sepercik cahaya, yang akan menghantarkan pada sebuah kebebasan dan kedaulatan.

Jika menilik sejarah kehadiran Boedi Oetomo diatas, tentu bukan satu satunya tunggal perjuangan mahasiswa atau kaum muda kala itu. Perjuangan lainnya pun lahir, diantaranya seperti sebut saja Indische Vereeninging yang kemudian berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia. Selain itu adalah munculnya Indische Partij yang  sukses melakukan propaganda propaganda di masa prakemerdekaan.

Kemudian ada Sarekat Islam dan Muhammadiyah disusul oleh Nahdlatul Ulama yang beraliran nasionalis demokratis dengan dasar agama, dan juga Indische Social Democratische Vereeninging  yang berhaluan Marxisme, kesemuanya menambah  perlawanan para pemuda kaum terpelajar dalam mewujudkan cita-cita dan  arah politik menuju kemerdekaan.

Hampir bisa dipastikan masa di atas  menjadi  suatu episode sejarah, dari awal berkobarnya semangat pemuda khususnya kaum muda, yang menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu dari kalangan intelektual terpelajar bergelar mahasiswa itu. Hingga semangat inilah yang kemudian menggelinding dan meyakinkan semangat perjuangan para founder Indonesia untuk melakukan proklamasi kemerdekaan.

 

Berdasarkan kisah cerita dan bukti bukti diatas, tentu  mengarah pada cerita yang sama, hingga bahkan ke soal cerita bagaimana peristiwa renggas dengklok yang menjadi  sebab terjadinya dorongan untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan Republik ini. Jawabnya adalah kaum muda dan mahasiswalah yang mengukuhkan keraguan kaum tua waktu itu dengan menculik Soekarno-Hatta. Detik detik proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 tentu  hanya satu dari bukti semangat perlawanan kaum muda khususnya mahasiswa.

Namun kemerdekaan di tahun 1945 ternyata tidak menyudahi  perjuangan dan perlawanan kaum muda khususnya mahasiswa. Selepas orde baru rasa rasanya memang kita tidak lagi melawan penjajah, namun berubah melawan bangsa sendiri, beberapa aksi dan perlawanan mahasiswa pasca kemerdekaan atau orde baru bahkan melahirkan Reformasi  yang berhasil  membuat Soeharto lengser.

Hari ini pun gugatan terhadap kemerdekaan dan reformasi nampaknya menjadi sebuah pembahasan yang kurang menarik perhatian bagi banyak orang. Kemerdekaan mulai mengalami redefenisi penafsiran mengenai kemerdekaan tidak bisa diterjemahkan secara prosedural, kemerdekaan juga tidak boleh sekedar dimaknai sebagai sebuah  mekanisme formalitas yang gugur ketika upacara pengibaran bendera 17-an yang sebentar lagi digelar.

 

Darinya peran dan warna serta arah gerakan mahasiswa pun turut di pertanyakan. Oleh karenanya kemerdekaan adalah sesuatu yang sifatnya holistik. Mahasiswa khususnya sebagai kaum terpelajar tidak boleh dikerangkeng dan dikungkung oleh hal-hal yang sifatnya simbolis. Ia musti hadir sebagai sebagai pembaharu karena punya modal intelektual dan akademik yang mempuni, mengutip bung Karno dalam pidato Trisaktinya bahwa kemerdekaan itu sesungguhnya mencakup tiga hal yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian dalam berbudaya. Pidato singkat ini yang barangkali perlu menjadi renungan bagi semua kaum muda khususnya mahasiswa hari ini.

Mahasiswa Sebagai Kaum Intelekual Organis

Bicara Mahasiswa tentu saja tidak dapat dilepaskan dari kata’’Mahasiswa”. Status ini (baca: intelektual organis) seharusnya benar-benar direalisasikan melalui gerakan untuk membangun bangsa, baik dituangkan dalam bentuk kegiatan organisasi intra maupun extra kampus.

Bisa juga melalui karya pemikiran kritis semisal dalam bentuk tulisan ataupun lewat turun lansung ke jalan. Mahasiswa tidak boleh hanya larut oleh cerita heroik pada masa silam hingga melupakan tugasnya dalam mengisi kemerdekaan.

Mahasiswa hari ini harus menjalankan fungsinya sebagai intelektual organik, meminjam istilah Gramscie, intelektual organik ini adalah mereka para kaum intelektual yang tidak sekedar hanya mampu menjelaskan bahwa kehidupan sosial dari luar berdasar kaidah kaidah saintifik, tapi juga merupakan bahasa kebudayaan untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman ril yang tidak bisa diekspresikan oleh masyarakat secara sendiri tanpa praktik dan andil kaum mahasiswa.

Selain Gramscie, Hamka juga memberi contoh yang bagus kepada  mahasiswa dan kaum terpelajar. Semangatnya yang tinggi sebagai kaum intelektual tidak hanya ia aplikasikan sebagai teori saja. Namun, ia terapkan dan memberikan dalam kehidupan masyarakat sekitarnya yang tidak beruntung hidup dinegerinya sendiri. Hamka memang memiliki semangat tinggi dalam menggali ilmu kemudian mengamalkannya. Bahkan dalam pernyataannya ia mengakui perlu membaca sampai lima puluh buah buku untuk memahami satu hal mengenai agama dan emosi. Dan sebagai kaum intelektual, ia juga mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan sosial.

Gagasan gagasan di atas perlu terinternalisasi, dalam diri mahasiswa sepanjang perjalanan akademiknya, mahasiswa harus peka terhadap persoalan kampus yang makin kritis dalam cengkeraman neolib. Disamping ia tidak boleh melupakan rakyat yang banyak dirugikan oleh pengusaha dan penguasa hari ini, saatnya mahasiswa membangun gerakan dan peran intelektualnya dimulai dari dalam kampus,  kemudian dekat dan memangun kekuatan bersama sama dengan rakyat yang dihimpit oleh ribuan persoalan, mulai dari kemiskinan, kesenjangan, penggusuran dimana mana sampai pada bentuk bentuk keji seperti penindasan atas hak rakyat dll.

 

 

Kompleksnya masalah internal dan external gerakan hari ini sangat riskan membuat mahasiswa menjadi apatis, dan beralih mentalnya menjadi pragmatis hedonis, serba menginginkan segala sesuatu secara instan. Tentu hal ini tentu sangat jauh dari cita cita reformasi dan bertentangan dengan semangat revolusi.

Selain itu,yang lebih bahaya lagi apabila status mahasiswa sebagai kaum intelektual  hanya sekedar menjadi status kosong tanpa isi.  Lalu, apabila sudah seperti itu, siapakah yang yang akan diharapkan menjadi intelektual organik?

Sebagai,kaum intelektual yang hidup diera millenial, sebutan untuk  sekarang tentu mahasiswa menghadapi dua beban ganda’’pertama’’ ia harus mawas diri memposisikan perannya dalam era teknologisasi. Tekanan untuk berperilaku konmsutif hedon dan sederet perilaku berlebihan lainnya sangat riskan, artinya instanisasi perilaku, baik secara pribadi ataupun sosial bak setan yang menggoida iman intelektual tersebut.

Kedua memahami serta mampu memecahkan masalah ketidak adilan dan kesenjangan yang terjadi di dalam dan diluar kampus. Ketiga bahwa mahasiswa harus menjadi kelompok sosial (collective sosial) yang berperan aktif, menjadi problem solving di tengah himpitan dan problematika sosial yang begitu kompleks. Ia harus berdiri  paling depan, mempropogandakan tatanan sosial yang bebas dari najis dan pemerkosaan struktur. Menendang jauh jauh bentuk pembodohaan yang semakin canggih dengan wajah baru.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*