PHP, Wacana yang Mengombang-ambingkan Banyak Mahasiswa

(Sebuah catatan hasil diskusi “Apa itu Ilmu Sosial?”)

PHP adalah situasi dimana ada Subjek sebagai pemberi harapan palsu, dan ada objek selaku penikmat harapan palsu. Situasi seperti ini adalah situasi yang paling banyak melanda mahasiswa selaku golongan yang hingga hari ini senantiasa menjadi tempat dimana banyak harapan dibangun dan disimpan.

Sebagai golongan tengah di masyarakat, mahasiswa memiliki akses untuk menjadi subjek ataupun objek di dalam distribusi harapan-harapan. Harapan palsu tidak muncul dengan sendirinya. Hal itu tentunya memiliki banyak alasan yang ikut serta di belakangnya.

Namun pernahkah teman-teman yang budiman berpikir apa sebenarnya harapan palsu itu? Siapa sebenarnya yang telah lancang menciptakan harapan palsu, sesuatu yang menjadi momok menakutkan bagi para jombloan penggiat lembaga? Pernahkah teman-teman benar-benar bertemu secara langsung entah itu di tempat fotocopy atau di warung makan coto dengan seseorang atau sesuatu yang disebut harapan palsu? Nyatanya tidak ada satupun dari kita yang benar-benar  pernah bertemu dengan harapan palsu. Harapan palsu hanyalah wacana yang kita bangun bersama kemudian kita kembangkan di pikiran masing-masing.

Hal di atas adalah hal yang saat ini marak diperbincangkan oleh mahasiswa yang mengaku mengidap pemikiran postmodernisme. Para penggiat postmodernisme menganggap hal-hal yang paling membahagiakan atau justru paling menyedihkan adalah wacana belaka yang tidak nyata adanya. Banyak wanita yang berbondong-bondong membeli kosmetik hanya untuk terlihat cantik. Padahal cantik adalah wacana yang sangat absurd hasil ciptaan iklan sabun. Mereka dengan tegas mengatakan bahwa wacana adalah penguasa baru yang tak bisa kita deteksi keberadaannya.

Sebelum mahasiswa penggiat postmodernisme berjingkrang di kelas-kelas diskusi terkait wacana PHP, ada pendahulu mereka yang menggolongkan dirinya sebagai mahasiswa pemeluk pemikiran kritis. Golongan ini menganggap PHP sebagai antek-antek kapitalisme yang melemahkan pergerakan mahasiswa dalam memperjuangkan hak rakyat. PHP yang menyerang alam paling dalam diri seorang mahasiswa pejuang, akan membawa dampak yang buruk terhadap semangat perubahan yang selama ini ia junjung.

Sementara di awal perkembangannya, PHP menjadi bahan penelitian menarik bagi beberapa orang. Waktu itu PHP belum bisa menjadi bahan keilmuan layaknya ilmu alam. Orang-orang ini tergolong sebagai kaum positivistik. Mereka menganalisis PHP sebagai sesuatu yang bisa mengubah banyak hal di dunia. Kaum ini menjunjung tinggi semangat positivistik yang di usung oleh Aguste Comte  yakni menjadikan ilmu sosial sebagai ilmu yang diperhitungkan di ranah institusi keilmuan. Hal itu diperjuangkan Om Comte karena pada zaman dahulu, yang diperhitungkan sebagai ilmu hanyalah ilmu alam. Singkat kata, Om Comte ingin menjadikan segala sesuatu yang bukan ilmu alam, menjadi golongan yang digolongkan menjadi ilmu sosial dan diakui keabsahannya layaknya ilmu alam. Jika Om Comte yang memisahkan filsafat dan sosiologi, maka kaum ini juga memisahkan antara perasaan dan perilaku dalam PHP.

Menurut Heru Priyanto, seorang mahasiswa antropologi pengamat kakak-kakak pemberi harapan palsu kepada adiks-adiks lucu dan kurang pengalaman, PHP memiliki beberapa tahapan antara lain; berkenalan, menyamakan pengalaman, menyamakan impian, kemudian jalan masing-masing. Dengan begitu, PHP jelas bisa disistematiskan layaknya proses hujan  atau tumbuh kembang bayi. Berkat mereka, PHP menjadi salah satu hal yang layak diperbincangkan di ranah keilmuan khususnya di dalam kampus sebagai salah satu institusi pendidikan.

Tak jauh berselang, ada golongan yang muncul untuk menyicipi PHP, agar mengetahui PHP sebagaimana PHP itu sendiri. Menurut mereka, PHP tidak bisa hanya dilihat dari luar saja. PHP sebagai situasi perasaan juga harus ikut dirasakan. Karena yang mampu menjelaskan PHP sebagaimana PHP hanyalah orang yang langsung merasakannya. Merekalah golongan interpretative. Mereka ingin merasakan bagaimana itu PHP layaknya Christian Pelras yang melakukan penelitian tentang manusia bugis.

Hingga hari ini, PHP dianggap sebagai hal yang tak habis-habisnya diperbincangkan mahasiswa. PHP menjadi bagian dari objek penelitian ilmu sosial yang menggunakan berbagai paradigma ilmu sosial dalam hal meng-analisis PHP itu sendiri. Di tataran ini, mahasiswa seolah terbawa pepatah “Sambil menyelam, minum air. Sambil membincangkan PHP, sambil tetap di PHP”.  (Kajian)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*