Spekulasi atas Tragedi yang Spekulatif

oleh Wahyu Al Mardhani

Tragedi serangan teroris menjadi pokok bahasan belakangan ini, dibicarakan dimana-mana, diberitakan di media arus utama dan diviralkan di media soial, dikutuk oleh pemuka agama dan tokoh besar, ramai-ramai membuat tagar dengan maksud tertentu, hingga didoakan oleh simpatisan korban. Bom bunuh diri di tiga gereja Kota Surabaya dan serangan teroris di Kantor Polda Riau menjadi permenungan tentang keadaan bangsa mutakhir. Tentu hal ini menjadi tamparan bagi kita semua. Menempatkan target pada rumah ibadah dan instansi aparatur negara bisa saja menjadi parameter sentral untuk menilik keadaan bangsa, terutama dalam hal ihwal kemanusiaan. Maraknya isu yang berkembang bahwa serangan yang dilakukan oleh pelaku teror adalah dari mereka yang menyatakan diri beragama Islam dan mengatasnamakan Jihad demi keyakinan personal mereka, seakan-akan menjadi konsekuensi logis yang harus diterima begitu saja sebagai suatu kenyataan bahkan kebenaran tanpa sikap kritis. Hal ini bisa saja dikarenakan makin menjamurnya informasi dan pemberitaan terkait serangan radikalisme ISIS ke masyarakat sipil beberapa tahun belakangan ini; target serangan yang bukan tempat ibadah bagi kaum muslim; surat yang sengaja dituliskan pelaku serangan di Polda Riau dengan khas ke-Islam-an (yang bisa ditelusuri di news.idntimes,com); serta atribut (pakaian) yang pelaku kenakan dianggap representasi kaum muslim. Di lain sisi, berbagai tokoh dan pemuka agama Islam, salah satunya yaitu Lukman Hakim Saifuddin selaku Menteri Agama menganggap bahwa serangan tersebut bukan bagian dari ajaran Islam. Mengorbankan diri–dengan melakukan bom bunuh diri–demi “keniscayaan surgawi” tidak pernah dibenarkan. Maka, spekulasi yang berkembang atas kejadian teror ini salah satunya mengerucut kepada praktik cuci otak dan doktrin dogmatik yang menyalahi nilai-nilai kemanusiaan.

Spekulasi bermunculan sana-sini, dari isu politisasi menuju Pilpres 2019, kredibilitas aparatur negara yang dianggap “kecolongan”, bahkan klaim ISIS atas serangan tersebut yang dimuat di Amaq News Agency . Jika kita mengakumulasi semua informasi dan spekulasi yang ada, hingga emosi-emosi masyarakat yang ditimbulkan, sebagai tindakan terorisme barangkali telah mencapai tujuannya, yaitu membuat kita panik dan memelihara keresahan, atau bahkan saling tunjuk hidung untuk disintregasi bangsa sendiri. Namun, yang terpenting, karena ini menyangkut kemanusiaan, maka perlu untuk kita renungkan kembali.

Krisis Kemanusiaan dan Kritik Agama yang Intoleransi

Menurut hemat saya, selagi disitu ada manusia, mestinya nilai-nilai kemanusiaan seiring bersama person manusia itu. Nilai-nilai itu menyimpan cita-cita dengan segala upaya untuk menempatkan dan memperlakukan sesama manusia secara manusiawi. Jika kita melihat kembali tragedi bom bunuh diri di Kota Surabaya, saya rasa nilai-nilai kemanusiaan itu telah disingkirkan jauh dari pemahaman pelakunya. Saya bersepakat dengan Goenawan Mohamad dalam pidato yang disampaikan di Singapura, 14 April 2010. “Hari ini, intoleransi harus berada di layar radar kita, sebab ini merupakan isu genting yang mendorong kita untuk memerhatikan dan mengingat kebiadaban yang terjadi sehari-hari”. Bukan saja terjadi di Indonesia, di Lahore, Pakistan, sepasang pengebom bunuh diri mengakibatkan 43 orang dan melukai 100 orang, dua bom bunuh diri yang menyerang Moscow Metro membunuh setidaknya 39 orang, lima bom meluluhlantahkan bangunan apartemen di Bagdad dan sebuah pasar yang berhasil membunuh 49 orang dan melukai lebih dari 160 orang. Apapun motif sejati dibalik tragedi-tragedi itu, mengingatkan kita akan sejarah panjang tentang peyerangan dan kekejaman yang dihasilkan oleh hasrat untuk memusnahkan orang yang berasal dari iman dan etnisitas yang berbeda.

Merujuk gagasan seorang Pdt. Suarbudaya Rahadian di indoprogress.com, bahwa tentu saja teroris dan terorisme ada hubungan dengan agama. Sejarah mengakui itu, misalnya; pembantaian St. Bartholomew di Prancis (1572), orang-orang Katolik membunuh lebih dari 10.000 Huguenot atau Protestan Prancis dalam waktu enam minggu; atau pada 1530-an, Henry VIII dari Inggris menggantung dan memenggal 161 orang Katolik di Tyburn. Tanpa melihat statusnya sebagai agamawan, ia pun menganggap semua agama selalu menyimpan dimensi ambivalen, sama saja dengan manusia yang memiliki sisi baik dan sisi buruk sekaligus. Di satu sisi, agama diklaim sebagai jalan menuju keselamatan, cinta, dan perdamaian; jalan ke tatanan hidup yang lebih manusiawi sekaligus Ilahi. Di sisi lain, kita tidak bisa menutup mata bahwa dalam sejarah, “agama” justru kerap tampil sebagai sumber, penyebab, dan alasan tereduksinya kemanusiaan itu sendiri. Sejarah mencatat bahwa adanya cinta kasih, pengorbanan diri, dan pengabdian kepada orang lain memang berakar pada pandangan keagamaan; artinya agama memang diharapkan turut ambil bagian dalam aktualisasi proses perwujudan kemanusiaan, namun di lain pihak, tafsir tertentu atas agama acap kali justru dijadikan pendasaran untuk merusak atau mereduksi proses tersebut dan bersifat destruktif.

Ambivalensi pada agama inilah yang memunculkan kontradiksi-kontradiksi selanjutnya, sehingga pelbagai kritik dari pemikir modern banyak dilayangkan. Salah satunya adalah Ludwig Feuerbach dalam Menalar Tuhan (2006; hal. 64-71), “Inti kritik itu adalah bukanlah Allah yang mencipta manusia, melainkan sebaliknya Allah adalah ciptaan angan-angan manusia. Agama hanyalah sebuah proyeksi manusia. Allah, malaikat, surga, neraka tidak mempunyai kenyataan pada dirinya sendiri, melainkan hanya merupakan gambar-gambar yang dibentuk manusia tentang dirinya sendiri, jadi angan-angan itu ciptaannya sendiri, jadi angan-angan manusia tentang hakekatnya sendiri. Agama bagi Feuerbach tidak lebih daripada proyeksi hakekat manusia. Namun kemudian manusia lupa bahwa angan-angan itu ciptaanya sendiri.” Bahkan, Friedrich Nietzche menganggap bahwa agama diciptakan oleh sentimen orang-orang yang kalah dalam kehidupan nyata, maka mereka mengharapkan kehidupan yang lebih baik, yang hanya ada sesudah hidup ini, mereka berkeyakinan akan dimenangkan oleh kekuatan di alam baka. Sedangkan bagi Karl Max dalam Critique of Hegel’s Philosophy of Right menjelaskan, bahwa agama adalah keluhan dari orang-orang yang tertindas, agama pada dirinya sendiri adalah sebuah gejala sosial ketika orang-orang mencoba menjelaskan adanya anomali dalam relasi-relasi sosial dan ekonomi. Karena agama dipahami sebagai keluhan dan geliat penderitaan, maka gesture reaktif, keras, bahkan destruktif adalah hal yang tak asing ditemukan dalam agama.

Kritik-kritik tersebut tentu berdasar pada praktik-praktik dehumanisasi yang dilakukan pada masa lampau sebagai otoritas agama. Meskipun kritik-kritik agama tersebut berbau “ateistik”, ada beberapa hal yang saling bertalian untuk menjawab pertanyaan, “Jika Terorisme hari ini mendasarkan diri pada agama, apakah tindakan intoleransi semacam itu merupakan kecenderungan inheren dalam agama?”

Absolutisme Kebenaran Agama

Merujuk fenomena yang terjadi dewasa ini hingga menimbulkan pertanyaan diatas, sudah seharusnya kita menyimpan kegelisahan atas situasi beragama yang kontradiktif. Namun, bukan untuk berlepas diri dari agama kita, tapi lebih kepada melakukan refleksi atas posisi agama dalam proses humanisasi. Mari melihat ke belakang. Tragedi 9/11 Gedung World Trade Center (2001) misalnya, tragedi yang belum juga terhapus dari ingatan kita, terlebih untuk para korban dan keluarganya. Tidak lama kemudian, giliran Indonesia yang diserang dengan tragedi bom di Legian, Kuta, Bali (12 Oktober 2002) dengan korban tewas 196 jiwa dari 22 negara. Kemudian, munculah berbagai serangan terorisme, hingga akhirnya bom bunuh diri di tiga gereja pada waktu yang hampir bersamaan; Gereja Kristen Indonesia, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, dan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (13 Mei 2018).  Luka itu kembali menganga, meskipun tidak bisa diseragamkan sebagai murni dikarenakan alasan “agama”, namun dengan melihat pola-pola yang melekat pada setiap kasus; seperti bom bunuh diri, memunculkan citra agama yang tak ramah. Struktur agama umumnya baik secara eksplisit maupun implisit mendasarkan pada rasio, absolutisme kebenaran agama justru lahir dari klaim atau argumen dari mereka yang menciptakan dogmatisasi, yang menafsirkan “wahyu” Tuhan sebagai kebenaran tunggal. Prinsip atas kebenaran agama bagi mereka yang beragama puritan yakni satu dan mutlak; selalu dan dimanapun itu. Sehingga, bagi mereka yang menanggalkan akal pikirannya dalam beragama, konsekuensinya berimbas pada “hanya satu agama yang paling benar”.

Barangkali siapapun yang mendoktrin para pelaku teror itu, memakai pola pikir yang serupa. Karakteristik atas tafsir kebenaran tunggal itulah yang membentuk agama cenderung kaku, agresif, dan bahkan destruktif.  Meskipun terkesan ironis, nyatanya ada praktik-praktik seduksi yang akhirnya berakibat gagal pahamnya pelaku teror atas ajaran yang dianutnya untuk tetap berpikiran bahwa fundamentalis dan radikalisme agama harus tetap dipelihara karena hal tersebut telah menjadi kebenaran agama yang absolut. Menurut Brurce B. Lawrence dalam Religion, Modernity and Postmodernity (1998), “kaum fundamentalis kebenaran itu satu; selalu dan dimanapun”, artinya kelompok-kelompok intoleran semacam itu kerap mendasarkan diri pada logika sederhana yang kurang kritis. Maka tidak mengherankan, pemikiran semacam itu tetap tumbuh dan berkembang pada kaum teroris ataupun aktivis-teologis, sehingga realita yang harus diterima sedemikian adanya. Ketika para pengikut yang taat dan bersemangat mengangkat ajaran dan kepercayaan agama mereka hingga ke tingkat klaim kebenaran mutlak, merekalah yang sebenarnya menjadi pembuka pintu bagi kemungkinan agama mereka berubah menjadi “jahat”, atau dengan kualifikasi moral menjadi “kejam”.

Kemudian, jika mereka tetap menganggap konsepsi kebenaran agama sebagai keniscayaan tunggal, saya pikir, dasar keyakinan dan kemutlakan atas tafsir wahyu Tuhan itu yang menjadi persoalan. Bukankah tafsir atas wahyu Tuhan itu bagaimanapun selalu dibatasi oleh penafsiran melalui bahasa yang digunakan, situasi geografis, konteks sosio-kultur-nya, maupun oleh partikular sejarahnya? Bukankah yang absolut dan satu itu adalah Tuhan itu sendiri dan Nabi sebagai penerima wahyu itu merupakan sarana? Lalu, jika kita berefleksi atas pertanyaan yang saya tawarkan diatas, penafsiran atas wahyu Tuhan oleh pembacanya memiliki pelbagai sisi relatif, bisa jadi wahyu justru memperlihatkan aspek-aspek tertentu kehendak Tuhan dalam konteks tertentu. Itulah mengapa bagi saya, penafsiran wahyu yang satu dianggap berbeda dengan penafsiran wahyu yang lain. Alhasil, pada sisi yang lain, konsepsi kebenaran agama telah melahirkan pula kecenderungan eksklusivisme. Kebenaran dan identitas di hayati dengan cara menyangkal dan meniadakan yang lain. “Bila wahyu saya benar, maka yang lain harus salah”. Karenanya, ia harus disingkirkan atau wajib ditaklukan. Cara pembenaran macam ini bisa dinyatakan dalam, “diluar agama saya adalah kafir”, “di luar Gereja tidak ada keselamatan”. Jika merujuk pada agama, yang idealnya mempersatukan dan memudahkan orang merangkul sesama, disini justru menciptakan jarak antara satu sama lain. Tak heran bila penafsiran kebenaran seperti ini menjadikan agama selalu rentan konflik dan memudahkannya terperosok dalam kontradiksi yang ironis.

Transaksi Ketakutan

Jika diamati pada praktiknya, ajaran-ajaran tertentu dari agama kerap kali menggunakan logika oposisi biner; dosa-suci, haram-halal, surga-neraka, hukuman-ganjaran. Atas dasar konsepsi “hitam putih” inilah yang cenderung pula mengakibatkan disposisi mental yang berujung pada ketakutan dan ketaatan buta, bukan kemauan. Sehingga, tidak sedikit orang-orang lantas melakukan sesuatu semata-mata agar tidak masuk neraka atau agar mendapat ganjaran di surga. Jika kita menggunakan pola pikir psikologi, model reward and punishment macam ini bukanlah transformasi nilai dari seorang manusia dewasa. Sehingga imbas etisnya, transaksi ketakutan itu mudah sekali dijerumuskan pada pengaktualan yang agresif dan berbentuk kekerasan, sehingga dalam praktiknya, orang yang dalam ketakutan atau ancaman, berpotensi besar untuk melakukan kekerasan.

Selanjutnya, John D. Caputo dalam Agama Cinta, Agama Masa Depan (terj. Martin Lukito Sinaga, 2003), “Fundamentalisme adalah suatu usaha egosentris-infrantil untuk menciutkan cinta Tuhan, yang sebenarnya menunjukkan kegagalan dalam menghadapi denyut dinamika kritis religius, ketidakmampuan untuk melihat bahwa Tuhan dapat tampil dalam pelbagai bentuk yang tak terduga, tak terhitung dan tak terjelaskan, diluar kerangka pemahaman konvensional kita”. Artinya, kelompok intoleran seperti itu adalah mereka yang tidak mampu menghadapi kontraksi dunia akan pluralitas dan tidak sadarnya akan keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki manusia itu sendiri. Ketidakmampuan mencerna hiruk pikuk pluralitas tersebut sebagai representasi atas kekosongan laten dan kebingungan luar biasa akibat meningkatnya ilmu pengetahun dan teknologi, sehingga yang berkembang adalah ketidaksesuaian agama dengan modernitas, serta gerakan-gerakan humanisme yang berjalin berkelindan.

Akan tetapi, untuk mengamati beberapa kasus terorisme belakangan ini, tidak bisa disimpulkan secara simplistik. Kelompok intoleran (Teroris dan anasir-anasirnya) pada beberapa kasus secara agresif melancarkan serangannya dengan memanfaatkan teknologi dan menggunakan strategi manipulatif yang efektif untuk merealisasikan visinya. Berdasar pada serangan bom bunuh diri di Surabaya, ada pola-pola yang seragam dilakukan tapi sangat jarang terjadi di Indonesia; perempuan sebagai pelaku aktif. Bagi saya, strategi semacam ini dilakukan secara struktural oleh kelompok intoleran, maraknya video-video propaganda oleh ISIS yang memunculkan perempuan-perempuan sedang latihan menembak atau memanah serta keahlian lapangan lainnya pun menandakan adanya peran aktif oleh pihak perempuan. Lone wolf (sebutan untuk para pelaku bom bunuh diri) yang lazimnya dilakukan oleh laki-laki, kini pun dilakukan oleh perempuan. Pada kasus lain yang terjadi, peran aktif perempuan Black Widows di Chechnya dan Black Tiger di Srilanka. Strategi yang secara sengaja diluncurkan ini menunjukkan bahwa kelompok intoleran tersebut juga memiliki model pemikiran yang “cerdik” untuk “menjual” ketakutan-ketakutan secara meluas.

Revitalisasi Nilai-Nilai Kemanusiaan

Agama dianggap sebagai pengawal peradaban manusia, kebudayaan dengan pelbagai perniknya berkembang subur dan berbunga harum tak lepas dari peranan agama dan agamawan, di mana agama dianggap sebagai bagian kebudayaan itu sendiri. Bagaimanapun, agama menjadi penjaga ketenteraman, bukan menjadi penjagal perdamaian. Tindakan-tindakan intoleran yang mengatasnamakan agama akhirnya menyingkirkan paham atas Tuhan Sang Khalik bagi semua manusia, tetapi mendeklarasikan Tuhan yang memihak pada kelompok dan milik agama tertentu. Jika demikian, hasilnya tentu terjadi konflik agama yang nyatanya hingga saat ini tak kunjung padam. Agama yang seharusnya menjadi sumber perdamaian ternyata dimanifestasikan pada bentuk-bentuk kekerasan dan kekejaman. Semisal pada perang jihad yang disalah-artikan dan hanya dititik-beratkan pada unsur “pedang”; mati sahid melalui bom bunuh diri dengan dalil kebenaran agama. Bagi mereka (pelaku), korban jiwa yang gugur barangkali dianggap sebagai bentuk kemartiran atas bakti dan sembah pada Tuhan.

Andai saja, masing-masing dari kita sebagai manusia untuk melihat orang lain yang juga sebagai manusia tanpa membawa pernak-pernik eksternalisasi diri, seharusnya baik kita atau orang lain sebagai manusia pantas dihormati dan dihargai sebagai image dei (citra Tuhan atau makhluk Ilahi) . Kita adalah makhluk insani dimana tubuh kita dapat hancur menjadi humus (baca : tanah) karena kematian, tetapi sekaligus juga mahkluk ruhani, dimana ruh itu tetap hidup setelah kematian, karena pada asalnya adalah partikel yang diturunkan dari Yang Ilahi–yang menentukan kehidupan dan kematian. Jika masing-masing dari kita ada pada titik kesadaran ini, saya rasa dalam setiap agamapun, pada dasarnya mewartakan Tuhan yang memihak dan mencintai kemanusiaan, sehingga pada ranah aplikatif dalam bentuk apapun itu, kita tidak seharusnya menolak kehadiran agama lain. Jikalau ternyata dalam remah-remah sejarah ada kekejaman yang ditimbulkan karena otoriras keagamaan, hal itu terjadi karena oknum penganutnya tidak memiliki kepedulian akan nilai-nilai kemanusiaan, seperti kaum-kaum intoleran.

Akhirnya, agama dengan segala manfaat dan mudharatnya tidak bisa dientaskan, hanya bisa di-radikal-kan. Artinya, kembali kepada akarnya sebagai kekuatan perawat kehidupan dan pewujud kesejahteraan segala makhluk. Sebagaimana, kata agama (dalam bahasa Latin Religere), secara definitif adalah kekuatan pengikat kehidupan. Kekuatan yang mengintegrasikan kehidupan. Maka dari itu, agama yang radikal bukanlah agama yang berisi kebencian dan hasrat pada kematian. Agama yang radikal adalah agama yang kembali ke akar hakekatnya sebagai kekuatan sosial teologis pembentuk tatanan. Oleh tatanan itu mengarahkan umat lewat syari’at, ajaran, liturgi dan penatalayanannya, bukan semata-mata menyiapkan umat pergi ke surga, tetapi membawa “surga” datang ke bumi, yang artinya menanam benih-benih kenyamanan dan cinta di muka bumi pula. Membawa Tuhan dikenali dari keadilan yang diwujudkan dalam relasi sosial, dari cinta yang dijewantahkan dengan kehidupan yang terus dikaji. Artinya, cinta dan kasih itu selalu ada, kitalah (manusia) yang seharusnya menumbuhkembangkan dan kemudian saling bertalian demi hidup bersesama yang damai.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*