Membentuk Para Penindas dan Hambanya

Oleh Merah Berani

Dari atas ke bawah yang ada adalah larangan, penindasan, perintah, semprotan, hinaan. Dari bawah ke atas yang ada adalah penjilatan, kepatuhan, dan perhambaan.

-Pramoedya Ananta Toer-

 

Sebaris kalimat bermakna yang menggambarkan keberpihakan terhadap kesetaraan dan keadilan dalam berkemanusiaan serta menyindir segala bentuk penindasan manusia yang menganggap dirinya berada di posisi yang lebih tinggi dari manusia lainnya. Untuk konteks hari ini yang katanya era reformasi dimana tatanan lama yakni sistem pembungkaman dan pembodohan di era orba digantikan dengan tatanan baru yang memberikan kebebasan untuk menyampaikan aspirasi dan kritik terhadap sistem yang ada. Dapat dikatakan ini suatu impian tatanan baru yang tidak melihat manusia lain sebagai bejana kosong, tidak melihat manusia lain sebagai robot-robot yang harus selalu siap untuk diperintah tanpa berpikir, serta tidak memaksa manusia lain untuk tunduk dihadapan sistem yang menindas, sungguh impian yang sangat mengagumkan bukan?

Mencoba melihat hal ini dalam konteks lembaga kemahasiswaan, dimana lembaga kemahasiswaan hadir salah satunya sebagai wadah pembasisan kader guna mencapai tujuan bersama, tentu saja dengan harapan kader-kader ini akan hadir sebagai manusia-manusia yang dapat merubah ataupun memperbaiki tatanan sistem kehidupan ke arah keberpihakan terhadap kemanusiaan. Sebagai gerbang awal dalam memasuki suatu lembaga kemahasiswaan biasanya  ada yang namanya proses kaderisasi formal yang dilakukan guna memantik pemahaman kader terhadap keorganisasian, keilmuan, dan nilai-nilai kemanusiaan, tentu kerja-kerja yang sangat mulia untuk orang-orang yang terlibat dalam proses tersebut.

Dalam prosesnyahampir tiap hari dalam semester ganjil dapat kita jumpai segerombolan manusia-manusia yang baru saja masuk ke dalam lingkup perguruan tinggi tertentu dan mereka kadang disebut sebagai “maba alias mahasiswa baru” oleh beberapa mahasiswa lama bisa kita sebut mereka sebagaiYang Maha, istilah maba ini oleh beberapa orang dianggap sebagai kasta dimana mereka status kastanya lebih rendah dibandingkan Yang Maha, mungkin mereka yang berpikiran seperti itu mesti ditelaah kondisi mentalnya akibat dari sikap superiornya. Salah satu perkataan yang sering dilontarkan dari Yang Maha bahwa kaderisasi termasuk pembentukan mental, sebenarnya mental seperti apa yang ingin dibentuk?

Mari menelaah terlebih dahulu penjelasan mengenai “mental” ini.  Kata mental diambil dari bahasa Latin yaitu dari kata mens ataumetis yang memiliki arti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat. Dengan demikian mental ialah hal-hal yang berkaitan dengan psycho atau kejiwaan yang dapat mempengaruhi perilaku individu. Setiap perilaku dan ekspresi gerak-gerik individu merupakan dorongan dan cerminan dari kondisi (suasana) mental.

 

 

James Draver memaknai mental yaitu “revering to the mind” maksudnya adalah sesuatu yang berhubungan dengan pikiran atau pikiran itu sendiri. Kondisi mental tersebut kemudian digolongkan menjadi dua yakni  mental yang sehat dan mental yang tidak sehat, kondisi mental yang sehat bisa dirasakan pada kondisi diri yang stabil, suasana hati yang tenang serta kondisi jasmani yang sehat sehingga dari hal ini maka individu akan mampu untuk beradaptasi di lingkungannya dengan baik, maka individu akan terhindar dari sikap inferior dan superior yang akan timbul dari dirinya jika ia memiliki mental yang tidak sehat.

Pada kondisi di proses penyambutan oleh Yang Mahabisa kita temui para mahasiswa baru yang diperintah untuk berbaris ketika berjalan bahkan ada yang harus selalu bergandengan tangan kemana-mana dan jika mereka menentang hal itu, mereka akan mendapatkanperlakuan buruk dari YangMaha, toh dari situ bisa kita lihat siapa yang bersikap superior.

Mahasiswa baru pun juga menerima begitu saja perlakuan ini karena takut ditindaki oleh Yang Maha sehingga teruslah terbentuk budaya tunduk, bungkam , bahkan memuja senioritas sehingga nantinya ini akan menjadi alur yang dianggap normal dan akan terus diadopsi oleh generasi-generasi berikutnya. Dari ilustrasi tersebut dapat diketahui ternyata metode kaderisasi yang demikian, besar kemungkinan untuk makin menumbuhkan sikap superior pada orang-orang yang menindas tadiserta membentuk sikap inferior pada orang-orang yang tertindasdalam hal ini mahasiswa baru.

Cita-cita mulia pembentukan mental yang sehat disini ternyata malah membentuk mental-mental  yang tidak sehat akibat dari ketidaksesuaian dari tujuan pemantikan nilai-nilai kemanusiaan yang ingin dicapai dengan metode yang digunakan untuk mencapainya.

Jika terus seperti ini pada akhirnya yang terjadi bukanlah sepenuhnya proses pendidikan karena dibumbui oleh perpeloncoan,hal tersebut bukan hanya berdampak pada kondisi saat kader-kader ini berstatus sebagai mahasiswa baru, bahkan ini akan berdampak panjangpada interaksi maupun pada pola-pola kerja organisasi nantinya.

Sikap superior sebagai efek dari mental yang tidak sehat nantinya akan mengganggu proses interaksi maka yang terbangun bukan lagi harmonisasi melainkan segregasi.Mereka pun (para junior) akan menjadi orang-orang yang bungkam dan takut bergerak atas inisiatif sendiri, maka jangan ajak mereka berdiskusi cukup perintah mereka untuk kesana kemari.

 

Ketika kaderisasi dianggap sebagai salah satu bentuk pendidikan,seharusnya mengarah kepada proses transformasi kesadaran menuju ke kesadaran kritis untuk memahami realitas tempat kita hidup ini dibentuk serta memahami bagaimana seharusnya kita hidup bersesama sebagai satu kesatuan manusia. Maka dari itu pendidikan semestinya membentuk manusia-manusia yang rendah hati bukan rendah diri, membentuk manusia-manusia yang dapat membebaskan diri dari sistem penindasan bukan menjadi penindas-penindas yang baru. Jika kaderisasi mengesampingkan hal-hal tersebut hanya untuk melanggengkan tradisi senioritas yang kolot lebih baik kaderisasi ditiadakan saja.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*