Pengaderan Diantara ‘’ Tradisi ‘’ dan Regenerasi

Banyak hal yang menarik jika kita mencoba membedah persoalan kehidupan mahasiswa, ibarat lautan kita tidak sanggup menyelami dasar lautan itu sesungguhnya, terlalu banyak hal yang masih menjadi misteri didalamnya yang belum dapat kita temukan dan kita saksikan. Kehidupan Mahasiswa sesungguhnya belum menjadi sorotan penuh dari banyaknya media mainstream hari ini, media itu hanya fokus memberitakan seputar aksi-aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa di momen-momen tertentu. Kehidupan mahasiswa begitu menarik teringat ungkapan yang lazim di kalangan mahasiswa ‘’ Buku, Pesta dan Cinta ‘’ ,ungkapan ini mungkin cukup mewakili sebagian kehidupan sebenarnya mahasiswa meskipun ada juga ungkapan lain ‘’ Buku ,Politik dan Cinta ‘’ Kita mungkin tidak tahu sebenarnya dari mana dan siapa yang menyampaikan ungkapan itu pertama kali yang jelas ungkapan-ungkapan itu sering digunakan untuk menggambarkan seputar kehidupan mahasiswa.

Kampus dapat dikatakan sebagai pusat kegiatan mahasiswa dan dikampus ini jugalah kita akan menemukan berbagai macam organisasi/lembaga mahasiswa yang menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengaktualisasikan dirinya. Dan menarik untuk kita amati bagaimana organisasi/lembaga menarik minat para mahasiswa untuk bergabung didalamnya, maka disinilah sering kita mendengar terminologi ( Istilah) Pengaderan. Istilah pengaderan sangat akrab dengan organisasi intra kampus, dalam kamus besar bahasa Indonesia pengaderan diartikan proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader. Jika berpatokan pada definisi tersebut sangat mulia sekali jika pengaderan itu dilakukan namun yang menjadi keprihatinan sebagian orang atau mungkin banyak orang pengaderan dianggap sesuatu yang ‘’ menyeramkan, sadis, brutal ’’ dan istilah-istilah lainnya.

Pengaderan menimbulkan kesan negatif karena dalam praktiknya sering terjadi hal-hal yang sangat tidak wajar dan bahkan seperti Dehumanisasi, meminjam istilah dari Paulo Freire. Ketika para penyelenggara pengaderan ditanyakan alasan penggunakan metode-metode yang tidak manusiawi selalu saja jawaban yang diberikan hanya apologi ( Pembelaan ) untuk membenarkan praktik-praktik yang terjadi. Menurut penulis metode-metode atau agenda- agenda yang diberlakukan dalam pengaderan yang demikian sepertinya sudah bertentangan dengan substansi pengaderan itu sendiri jika kita kembali membuka kamus, maka penulis memberanikan diri menggunakan terminologi ‘’ Tradisi ‘’ untuk menggambarkan fenomena yang terjadi dalam proses pengaderan tersebut. Praktik-praktik yang tidak manusiawi dalam proses pengaderan itu merupakan sebuah ‘’ Tradisi ‘’ yang mesti ditinjau ulang bahkan kalau perlu segera dihilangkan agar supaya tidak ada korban-korban baru, meminjam istilah Soe Hok Gie.

Penulis bukan mencoba melakukan generalisasi bahwa semua pengaderan mengandung unsur negatif atau semua organisasi/lembaga yang melakukan proses pengaderan melakukan praktik-praktik yang demikian namun ini hanya pengamatan sang penulis yang turut terlibat atau menjadi saksi sejarah dalam realitas pengaderan yang didalamnya terdapat praktik-praktik yang tidak manusiawi atau wujud intoleransi terhadap mereka yang disebut Mahasiswa baru. Pengaderan seyogyanya seperti yang terdapat dalam kamus besar bahasa Indonesia, mungkin sebaiknya  bagi para penyelenggara pengaderan kembali membaca teks ( buku ) agar menemukan metode-metode yang baru untuk menghapus praktik-praktik yang tidak manusiawi dalam pengaderan, Teringat ungkapan Francis Bacon ‘’ Ada buku yang perlu dikunyah-kunyah hingga habis saripatinya ’’.

Pengaderan seharusnya sebagai proses regenerasi murni yang dilakukan oleh organisasi/lembaga, yang tidak bisa kita pungkiri membutuhkan pelanjut atau istilah yang sering digunakan adalah kader. Pengaderan harus kembali kepada substansinya ( membentuk atau mendidik ) , Pengaderan harus terlepas dari segala macam ‘’ Tradisi ‘’ yang buruk. Pengaderan harus menjadi wadah bagi mahasiswa baru untuk bertransformasi menjadi lebih baik dan lebih maju. Pengaderan jangan hanya menjadi ‘’ Tradisi ‘’ yang terus dijalankan namun tidak mampu menghasilkan kebaikan ( perubahan individu-individu menjadi lebih baik ), Pengaderan harus dipandang sebagai ruang untuk melakukan kebaikan bukan justru kejahatan, teringat Firman Tuhan ‘’ Fastabiqul khaerat ( Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan )’’. Bagi para pendidik kader teruslah mengabdikan diri untuk memenuhi ‘’ Misi Suci ‘’ ( Pengaderan) seperti Para Nabi dan Rasul yang mengajarkan kebenaran dan kebaikan kepada umatnya meskipun harus berkorban. Dan bagi para calon kader jalani pengaderan dengan riang gembira, hati yang tentram dan damai dengan keyakinan bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia dalam proses pengaderan yang telah diikuti, teringat ucapan salah seorang senior ‘’ semua akan indah pada waktunya ‘’.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*