Anak “Haram” Lembaga Mahasiswa

Oleh : Achmad faizal

Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi – Gie (Catatan Seorang Demonstran).

 

Kalimat pembuka tersebut rasa – rasanya belum basi jika digunakan sebagai gambaran sekilas wajah sebagian mahasiswa hari ini. Menyaksikan permainan relasi kuasa dibalik pola interaksi senior – junior menjadi tontonan tahunan yang mengasikkan. Mental superior mahasiswa seketika dimunculkan ke permukaan demi menyambut musim mahasiswa baru yang segera datang menghampiri setiap tahunnya.

Konon selalu ada cerita suka duka yang tercipta tatkala penyelenggaraan tes SBMPTN maupun proses P2MB tiba (terutama di kampus – kampus Makassar). Diceritakan bahwa perasaan suka cita  mewarnai hari – hari para penjual asongan di sekitar kampus selama tes berlangsung karena mereka bisa memperoleh pendapatan lebih dari kehadiran para peserta tes atau maba di lokasi tersebut. Begitupun juga dengan para tukang parkir musiman dan penjual aksesoris kampus (stiker, gantungan kunci dst), angin bahagia segera berhembus menyapa mereka semua.

Di sisi lain, cerita duka segera menyelimuti para peserta tes SBMPTN yang kebetulan (sial) mendapatkan lokasi tesnya di kampus. Manifestasi dari kabar duka tersebut adalah pembayaran retribusi parkir yang berada diluar jangkauan nalar manusia ditambah (pemaksaan) pembelian stiker yang juga memiliki harga diluar batas keikhlasan sang pembelinya.

Lanjut cerita, terkadang terjadi adegan aneh di lokasi tes tersebut. Proses jual beli yang terjadi terkadang disokong oleh kekuatan invisible hand demi melancarkan proses transaksi tersebut. Konon, khusus untuk jual-beli stiker, maka  jauh sebelum si pembeli membayar, stiker tersebut nyaris telah terpasang rapi di masing masing kendaraan peserta tes SBMPTN yang dibantu oleh kekuatan invisible hand tersebut. Sungguh Adam Smith sangat terkesan dengan pengamalan teori tersebut.

Usut punya usut ternyata adegan- adegan pemerasan tersebut (jika tidak mau disebut praktik kapitalisasi) dilakoni oleh mahasiswa. Dengan bermodal sedikit sentuhan mimik wajah datar nan sangar ditambah rambut yang terurai berantakan cukup melengkapi kesempurnaan adegan dramaturgi tersebut.

Kewajaran Yang Tidak Wajar

Adalah sebuah bentuk kewajaran jika kita memarkir kendaraan di sebuah area parkir, lalu dikenakan retribusi parkir sebagai bentuk pajak atas jasa keamanan + lahan parkir yang digunakan. Namun seketika hal tersebut menjadi tidak wajar jika pajak retribusi melampaui harga standar sebagaimana yang telah ditetapkan oleh PD.Parkir (Rp 1000 untuk roda dua, Rp 2000 untuk roda empat).

Adalah sebuah “kewajaran” dalam dunia kampus jika mahasiswa menjual sebuah komoditas (makanan, stiker, gantungan kunci dst) dengan harga relatif tinggi. Atas nama pencarian dana “kreatif” lalu setiap komoditi dinaikkan persenan laba nya hingga 2x lipat dari harga standar. Namun seketika menjadi tidak wajar jika komoditas tersebut dijual dengan harga sangat tinggi bahkan melampui logika kapitalisme (sebuah sistem ekonomi yang sering dihinakan oleh mahasiswa).

Mari membayangkan bersama. Retribusi parkir (resmi) yang telah ditetapkan oleh PD Parkir Makassar berdasarkan UU No.17 tahun 2006 tentang Pengelolaan Parkir Tepi Jalan Umum dan UU No.28 tahun 2009 tentang pajak dan retribusi daerah adalah sebesar Rp 1000 untuk roda dua dan Rp 2000 untuk roda empat. Biaya tersebut adalah hasil akumulasi biaya jasa keamanan, penyewaan lahan (tanah) dan bentuk pajak lainnya.

Lalu bagaimana dengan tukang parkir terdidik (mahasiswa) ?. Dari tahun ke tahun, pajak retribusi parkir yang dikenakan oleh mahasiswa bermain pada harga 5 ribu, 10 ribu, hingga 20 ribu dan relatif fluktuatif tergantung berapa harga rokok di pasaran dunia. Biaya tersebut jika diuraikan secara rinci mungkin akan membuat para kapitalis tercengang. Coba bayangkan faktor produksi yang dimiliki mahasiswa tersebut ; lahan (tanah) untuk parkir adalah milik kampus, jasa keamanan masih diragukan, belum lagi praktik represif (intimidasi, bentakan, ancaman) ikut bermain didalam proses pembayarannya. Sungguh sangat jauh dari pola ekonomi yang dipraktikkan oleh Nabi SAW.

Namun berita lumrah tersebut jikapun hendak dikonfirmasi hanya akan bermuara pada jawaban pencarian dana lembaga mahasiswa yang bersangkutan dan sekaligus sebagai upaya menyegarkan kembali kantung pribadi yang dilanda kekeringan.

Kader salah atau Salah Kader

Tidak dapat disangkal jika rata rata yang mengamalkan praktik pemerasan tersebut adalah kader-kader lembaga mahasiswa di tingkat himpunan, bem/senat, maupun organ ekstra kampus. Hal itu sangat kontras dan sedikit janggal jika dilakukan oleh kelompok kelompok mahasiswa berprestasi, yang hari harinya dihiasi dengan mengaji, rajin hadir seminar motivasi, plus memiliki kedekatan emosional dengan birokrasi.

Adegan premanisme yang dilakoni oleh tukang parkir dan penjual stiker terdidik tersebut secara tidak langsung telah menggoreskan luka di hati lembaga berikut calon kadernya. Mahasiswa yang selalu dilekatkan dengan variabel moral force, social control , dan agen perubahan  namun dengan sendirinya akan luntur dengan praktik praktik yang boleh dikata sebagai sosiopatik.

Oknum oknum tersebut sebagai kader lembaga secara vulgar boleh dikata sebagai salah satu anak “haram” lembaga mahasiswa yang terlahir dari rahim lembaganya. Pada hakikatnya, keberadaanya tidak diinginkan namun di sisi lain dosa keberadaanya justru harus ditanggung sendiri oleh rahim lembaga yang melahirkannya.

Memang terkadang bercerita tentang narasi kecil seperti ini tidaklah menggairahkan dan memancing libido intelektual kita, tidak sama seperti saat berkoar lantang tentang narasi besar seperti neoliberalisme, kapitalisme, dan isme – isme lainnya. Namun apakah tidak menggelikkan jika sebuah lembaga mahasiswa dapat bercerita tentang narasi besar tetapi menuntaskan hal yang dipandang remeh temeh saja masih kewalahan dan cenderung menganggapnya sebagai sui generis, atau seperti itu adanya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*