“Dekonstruksi Sosial Dan Reorientasi Gerakan Feminism Era Milenial”

Oleh :  Nurizhy Amalia

“Jadi kita harus bersama-sama membuat orang berpikir bahwa kita semuanya sama-sama manusia dan harus samasama bekerja untuk membangun masa depan yang baik”- Sjamsiah  Achmad (Ketua Pusat Pemberdayaan Perempuan dalam Politik)

 

Dalam ruang atau ranah apapun, gerakan feminism; pergolakan identitas perempuan dan laki – laki selalu menjadi medan dialektika yang berakhir dengan gencatan kata – kata penutup yang saling meredam ego masing – masing yang nyaris bias makna.  Hemat kata, adakalinya terkuak kegagalan para feminis untuk merumuskan kembali permasalahan perempuan, sehingga melahirkan patahan dalam linimasa sejarah feminisme. Namun, sebelum itu selesai, permasalahan feminisme yang pada dasarnya adalah persamaan hak sosial, ekonomi politik, kemudian langsung dikerucutkan menjadi permasalahan budaya. Dimana hal tersebut di bawa ke dalam konteks aksi di jalan dan tercitrakan kepada masyarakat lain yang sinis terhadap gerakan perempuan dan feminisme. Tentu, tak ada yang salah dengan budaya (malah sangat krusial).

Paradox budaya (patriarki) yang paling mengerikan lainnya ketika kawanan laki – laki beranggapan bahwa perempuan yang ‘femenism’ itu dalam melakukan ‘pembelaan’ atas diri mereka terkesan menyampaikannya dengan penuh kemarahan dan sinisme. Sebab, patriarki kaku terhadap perbedaan, hingga dalam perbedaan bahasa dan semiotik. Seperti yang di kemukakan oleh Carol giliggan seorang Professor psikologi dan di afirmasi oleh Deborah Tanen sebagai Professor Komunikasi, mengulas perihal perbedaan mendasar dalam bahasa, dan sikap perempuan dan laki – laki. Patriarki menerima bahasa laki – laki sebagai bahasa dominan dan asing terhadap bahasa perempuan karena bahasa perempuan jarang di perdengarkan. Sehingga dapat di simpulkan bahwa laki – laki dan perempuan menunjukkan pola komunikasi dan bahasa yang berbeda. Dalam dialognya feminisme lebih banyak membahas perihal diskursus baru perihal penindasan yang kerap kali terjadi pada perempuan dan selama ini telah melekat berabad – abad. Sebuah hal baru dalam masyarakat patriarki, karena realitas selama ini di anggap wajar (KDRT, seksisme, body shaming, upah yang tidak seimbang). Di suarakan dengan lantang sebagai suatu bentuk ketidakadilan oleh kaum feminism (Tidak hanya perempuan feminism). Oleh sebab itu, sampai detik ini diskursus yang di kemukakan oleh feminis sering di anggap tidak rasional, mengada – ada, hingga tidak adil pada laki – laki. Sesungguhnya problem stigma pemarah yang di letakkan pada kaum feminis bukanlah berada pada cara penyampaian namun dari subtansi yang di anggap mengada – ada dan hanya sinisme belaka. Diskursus yang ditawarkan feminsime pun lebih banyak menggunakan bahasa perempuan dan memang memuat tujuan politis perempuan untuk membebaskan dirinya. Hal inilah yang membuat feminism seringkali terkesan sinis, dan penuh kemarahan, disamping karena perempuan diletakkan dengan karakter emosional.

Aneh, jika berbicara feminisme tapi tidak berbicara mengenai kebebasan hak politik dan hak social – ekonomi. Sebab feminisme, berlawanan dari konsepsi umum yang merugikan gerakan perempuan, bukanlah masalah pilihan semata. (Bowden & Mummery, 2009) Feminisme bukan hanya masalah “saya perempuan, saya tertindas, makanya masyarakat harus berubah.” Ia bukan persoalan identitas gender semata. Ia adalah benang-benang relasi kuasa politik, ekonomi dan sosial, lalu termaktub di dalam kebudayaan. Ibaratnya, feminisme adalah tujuan bersama, yang berlandaskan dari impian kita semua: keadilan sosial. (Bowden & Mummery, 2009: 164-165).

Pun aliran dalam feminism terbagi berdasarkan bagaimana penindasan bermula. Hal ini sebenarnya menunjukan bagaimana Feminisme memiliki perbedaan sudut pandang dalam menafsirkan perbedaan ideologi. Bahwa bahkan kaum feminsi memiliki tafsiran yang khas dalam melihat Negara, keadilan, pembangunan dan kelas. Berangkat dari keadaan mendesak tersebut, Nancy Fraser dalam buku antologi essaynya yang berjudul Fortunes of Feminism (FOF) membuka tabir permasalahan dengan pertanyaan, relevankah pemikiran feminisme yang ada saat ini untuk menjawab tantangan patriarki di masa depan? Apakah artinya menjadi feminis dan hubungannya di dalam gerakan sosial sekarang?

Sebelum beranjak lebih jauh ada baiknya kita memahami dulu prinsip kerja patriarki. Bagaimana patriarki hadir dan membentuk nilai dalam masyarakat. Dalam dominasi social patriarki menempatkan nilai yang di definisikan oleh laki – laki (pada umumnya) sebagai sebuah ukuran kebenaran dalam masyarakat patriarki, keadilan, kebenaran, cinta, kasih sayang hingga social power seluruhnya menggunakan defenisi yang di buat oleh laki – laki. Sangat minim ada suara perempuan dan nilai – nilai perempuan dalam masyarakat patriarki. Rasionalitas perempuan diabaikan dan suara perempuan direduksi, karena dominasi social tidak berada pada perempuan.

Pemahaman tentang kosep feminism, bukan hal yang membuat masyarakat milenial hari ini menjadi tabu akan relasi sosial yang ada antara perempuan dan laki – laki, dimana feminism sendiri merupakan upaya dari perempuan untuk mendefenisikan ribuan nilai yang terlanjur mengakar dalam dalam masyarakat. Melainkan manifestasi atas  nilai yang telah ada selama ini hadir dari defenisi sepihak serta narasi – narasi yang seringkali kurang tepat. Kita tahu dari zaman Hellenisme,  Feminism memahami ada ketidakseimbangan intelektual yang berdampak pada peradaban. Feminism hadir untuk mengantarkan perempuan berbicara dan ikut andil dalam peradaban manusia, mendorong perempuan untuk berhenti bungkam.

Sebagai usaha untuk meng-counter persoalan tersebut, sejak dasawarsa 1990an, para feminis mulai melakukan pendekatan interseksional, yang artinya menempatkan masalah perempuan tidak berdiri sendiri atau otonom, melainkan saling berinterseksi. Maka konsep gender pun tidak dapat dipakai secara otonom ketika menganalisa tentang masyarakat, melainkan konsep gender merupakan interseksi dari konsep kelas, ras, etnik dan agama. Dengan demikian, dalam perkembangan teori dan praktiknya, pertanyaan tentang mana yang prioritas antara perjuangan kelas atau gender, para feminis telah berupaya untuk tidak menempatkan prioritas itu dalam oposisi biner. Problem gender hidup dalam kontradiksi pokok pertentangan kelas, karena watak kapitalisme itu sendiri adalah patriarki. Dalam praktiknya, terutama dalam kehidupan organisasi kiri, memperjuangkan keduanya secara sinergis memang tidak mudah.

Jika feminisme abai pada permasalahan sosio-ekonomi mereka, maka penindasan akan selalu terjadi dan justru membuat terpecah-pecahnya gerakan perempuan, termasuk pemisahannya dari gerakan sosial lain—suatu hal yang diinginkan oleh patriarki. Permasalahan identitas yang direduksi menjadi sekadar pembenaran perbedaan perempuan dari laki-laki. Ini akan menjadi gerakan perempuan yang tidak bernas. Akibat dari gerakan ini adalah banyaknya feminis yang mengeksklusikan isu perempuan dan menyalahkan patriarki semata, tanpa tahu darimana datangnya patriarki.

Hingga jalan panjang gerakan feminism hari ini, harus memiliki stand-point yang jelas dalam memberikan argumennya terhadap gerakan perempuan (khususnya feminisme) itu sendiri, yakni feminisme harus kembali ke akarnya dan menyentuh agenda yang belum selesai dari pendahulunya di gelombang kedua feminisme babak pertama, yaitu hak-hak politik, sosial dan ekonomi. Fraser memberikan kontribusi yang sangat signifikan untuk perumusan gerakan feminis dan gender saat ini. Fraser seolah bersejalan dengan Maria Mies yang mengatakan bahwa semakin berkembangnya gerakan feminis, maka semakin berkembang pula manifesto-manifesto dari patriarki (Mies, 1999: ix). Untuk itu, menurut Fraser para perempuan yang bergerak di isu kesetaraan gender dan feminisme, harus “think big” dan “think ontologically”.

Jejak patriarki akan selalu hadir bahkan di kepala perempuan. Kerena itulah prinsip dasar keseimbangan di perlukan dalam berbagai macam proses pembelajaran yang tersedia sehingga tidak ada yang saling menyalahkan. Kata ‘derajat’ juga perlu mendapatkan redefinisi menurut perempuan. Hingga kita akan tiba di titik dimana tidak ada yang benar atau salah yang mutlak, namun itu semua perihal keseimbangan.  Lantas hal inilah yang mendasari mengapa kaum – kaum feminism senantiasa menyoriti hal – hal yang mendiskriminasi perempuan dan laki – laki, sebab setara adalah prinsip dasar feminism oleh sebab itu feminism akan terus mengkritik segala bentuk dominasi.

Pada akhirnya, gerakan perempuan dan feminis harus jeli dalam melihat konteks, tanpa meninggalkan perangkat dasar keadilan sosial sebagai akar dan tujuan feminism. Sehingga kebingungan feminis tidak kembali pada hakikat keadilan sosial di seluruh sektor masyarakat dengan pertanyaan, “Disaat semuanya mengaku menjadi feminis, tapi apa artinya (menjadi feminis) itu? Apa hubungannya menjadi feminis dengan gerakan sosial yang saya perjuangkan?”, sebab perjuangan seorang feminism, adalah jalan hidup atas nama kemanusiaan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*