“Percikan Surat dari Timur”

“Manusia yang senantiasa dihela dahaga harta dan berlari mengejar tahta seperti halnya kelinci yang terjerat jebakan petani” Basudewa Khrisna-Epos Mahabharata

 

Sedikit menelisik sejarah mahasiswa, Sejak abad 19, saat bangsa ini mengenal momen kebangkitan nasional, kaum muda Indonesia telah menjadi bagian penting dalam momen tersebut. Para Mahasiswa STOVIA, yang saat itu masih menginjak usia remaja, menjadi pioneer bagi proses bangkitnya bangsa ini untuk melakukan sebuah perlawanan secara sistematis terhadap imperialisme. Selang beberapa dasawarsa kemudian, teapatnya pada tahun 1928, pemuda saat itu sekali lagi mengguncangkan sejarah dengan mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Sebuah manifesto yang sangat heroik; mengajak segenap bangsa untuk melepaskan latar belakang mereka, dan menjadi satu dalam bingkai Indonesia.

Inilah misi-misi kita para pemuda. Dimana lagi waktu untuk berleha dan berfikir hal-hal kecil? Masih adakah waktu lepas berbincang tanpa batas? Atau mengumbar naluri muda di mall-mall, cafe dan taman kota yang hanya sibuk mengeksplor eksistensi diri saja. Kesemua hal ini tidak akan terwujud kalau hari ini pemuda hanya memikirkan kesenangan diri sendiri dan seakan memalingkan wajah dari peran sebagai sosok penggerak bangsa ini. Dengan berbekal pemahaman yang kuat bukan tidak mungkin bangsa ini tidak akan menjadi bangsa tempe sama seperti dikatakan Presiden RI Pertama Ir.Soekarno. Dengan penguatan sumber daya manusia kemajuan ke-tatanan yang lebih baik lagi akan terwujud di negara Indonesia. Tapi apakah semua itu harus kita buka kembali dan memaknai setiap gagasan yang dituangkan untuk kepentingan semua orang dan bukan menjadi alat penyokong kesenangan diri sendiri.

Belakangan ini, kompetisi-kompetisi yang diadakan baik itu dari lembaga intra kampus dan lembaga ekstra kampus kian menjadi petualangan bagi segelintir Mahasiswa yang haus akan pujian. Seakan menjadi pentas, mengharap tepuk tangan dan sorak penonton. Darimana fenomena ini muncul, menjadi basis dari gerakan kemahasiswaan yang berharap memberi solusi untuk bangsa dan negara.

Dari kejauhan terlihat perempuan dekil tak berpakaian selayaknya mahasiswa yang lain­─anti mainstrem sahutnya. Menyaksikan perjalanan kampus yang terus mengarah pada “kompetisi”. Apakah aku dibentuk untuk ini semua? Mendapat ke-agungan dan ke-hormatan dari gelar juara yang semu. Mengapa aku harus juara?

Sifat dasarku untuk menuju pada kesempurnaan, tak jarang mengantarku pada kelupaan itu sendiri. Menjadi manusia yang sombong dan tak pernah sama sekali melihat mereka yang tengah kelaparan dan menderita─akibat ketimpangan kelas yang menguasa. Banyak dari kita mampu memahami semua, tapi tak banyak dari kita berbuat apa-apa untuk semua ini. Mahasiswa selalu ingin mengarah pada pencapaian prestasi yang baik = akademik, non-akademik dan bahkan prestasi-prestasi yang membuatnya bahagia. Tetapi yang menjadi pertanyaan, untuk apa semua itu?

Pujian yang ada pada diri manusia,  tak seharusnya menjadikannya sebagai landasan dalam memperjuangkan ketertindasan seseorang, banyak orang yang berusaha melawan dalam kesunyiannya, termasuk para filosof yang berkarya bagi manusia lainnya. Filsuf-filsuf Yunani: Thales, Socrates, Plato, Aristoteles, Descartes, Adam Smith, Karl Marx dan bahkan Rasulullah S.A.W, tak pernah berpikir untuk menjadi terkenal sampai dewasa ini. Mereka menempatkan pemikiran sebagai sebuah alat untuk mencapai kesempurnaan hidup. Perenungan yang dalam membuatnya menemukan sebuah hal baru. Dan itu dilakukan bukan untuk puji ale (puji diri sendiri).

Kebanggan tersendiri terkadang menghampiri, siasat pun selalu mendatangi. Saat kehidupan kampus harus diukur seberapa banyak prestasi juara yang kudapati, maka patut aku curiga dengan semua ini. Nalarku kian lemah dan terkikis oleh pujian dari followers yang kebingungan mencari panutan atau siapa yang layak menjadi penuntun.

Mengerjakan sebuah essai bukan untuk diteruskan dalam gerakan sosial tetapi menjadi pertanda kekacauan dalam penulisan tersebut. Menulis untuk mendapat kehormatan dan tempat yang istimewa dalam gedung-gedung mewah milik mereka yang meng-hisap saudara sendiri. Haruskah kita diam melihat kejadian yang makin hari makin membingungkan. Saudara Mahasiswa yang mulai lupa dengan realitas sekitarnya, tercongkol jelas saat Masyarakat bara-baraya harus menahan pedihnya penderitaan penggusuran yang mereka alami dan membutuhkan uluran tangan-tangan ilmiah para cendekiawan licik tak punya welas asih. Bukankah mereka adalah manusia, sama dengan orangtua kalian, sama dengan diri kalian.

Pernahkah kalian berjalan sedikit saja, menengok ibu/bapak dan anak-anak yang rumahnya terancam tergusur. Tak perlu kalian marah pada tulisan ini, sebab penulis pun masih sama sepertimu yang tak bisa memahami.

Prestasi dan euforia kemenagan diri seorang mahasiswa yang tak melakukan apa-apa. Lantas dengan lantang mengatakan jalanku ini lah yang benar dan jalan-mu SALAH. Warr biasa! Sedangkan dia hanya duduk diam dalam ruangan yang penuh dengan kemegahan dan tak berbaur dengan tumpukan sampah masyarakat yang dianggapnya kumuh dan penuh dengan kriminal.

Saat nurani dan pikiran berselisih kalian harus apa? Apakah kalian hanya diam dan menutup mata, sedangkan mereka yang ada disana perlu ide-ide yang kau tuangkan dalam bentuk essai untuk diperlombakan. Sudahlah kawan, kita sama saja! Bukannya aku takut megatakan aku suci, tapi biarlah kesucian itu menjadi penilaian bagi Tuhan kita semua.

Apa yang diharap setelah bergabung dengan orang-orang dekil dan dianggap kriminal oleh masyarakat yang belum waras melihat realitas Barabaraya? Sama sekali tidak ada gunanya! “Kita hanya menghabiskan waktu dengan kebodohan” ucapmu yang tidak melihat Ilmu sebagai kekuatan untuk melawan. Sudihkah kalian melakukan penelitian ilmiah dengan metodologi yang begitu rumit untuk mendapat deskripsi atas kejadian disana.

Kenapa kita harus memikirnya? Sedangkan masih banyak persoalan lembaga kita masing-masing yang perlu untuk diurusi. Kondisi yang cukup dekat untuk kita pahami saja masih kewalahan untuk diurus, apalagi mau mengurusi hal yang sekiranya berada diluar tubuh kita, iya kah? Mari menjawab bersama.

 

“Kita butuh rasa saling mengerti untuk dapat menahan emosi diri, Kita tak butuh rasa ego berlebih hanya untuk tonjolkan diri”

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*