Tidak Adanya BEM Universitas di Unhas

Oleh : Desya Ayudia

 

“Alasan mendasar mengapa Universitas Hasanuddin tidak memiliki lembaga mahasiswa tingkat universitas adalah tidak adanya pijakan ideologis se-Universitas.” Katanya.
Akhir-akhir ini, mahasiswa di Universitas Hasanuddin sedang dalam wacana pembentukan lembaga tingkat universitas, seringkali disebut Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), tak terkecuali saya (harus) dan kawan-kawan seperjuangan juga ikut dalam merespon wacana tersebut, dengannya suatu malam berkendara menuju suatu tempat yang penuh keramaian kota demi menyempatkan untuk mendiskusikan terkait BEM-Universitas.
Sebelum saya bercerita mengenai arah dan hasil diskusi kami, seperti tulisan sebelumnya (Membangun Gerakan Sederhana Dari Ruang Kelas) sebaiknya saya mulai secara reflektif terlebih dahulu, setiap populasi dibentuk oleh keragaman yang tak terhindarkan di beberapa kondisi yang tumpang tindih, seperti kepentingan materil, komitmen moral, dan ikatan kultural. Keragaman itu, berarti bahwa perbedaan pendapat merupakan kondisi politik yang tidak terelakkan karena individu-individu dan kelompok-kelompok yang membentuk kondisi yang terkait memiliki kepentingan, komitmen, dan ikatan yang tidak hanya beragam, namun tak tereduksi, tetapi keniscayaan perbedaan pendapat itu juga mencerminkan fakta bahwa sebagai individu dan kelompok terkait satu sama lain. Sederhananya, kehidupannya sangat tergantung satu sama lain. Meski, terdapat keragaman, tetap membutuhkan sarana untuk mengoordinasikan interaksi sosial yang berkelanjutan. Tentunya, setiap orang berhak untuk berkeputusan, kalau istilah Gie dalam bukunya yang berjudul Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan, “the right of dissent.”
Kebiasaan yang dilakukan pada mahasiswa (khusus: lembaga kemahasiswaan) dalam merespon perbedaan pendapat adalah musyawarah atau dalam literatur kontemporer politik disebut dengan deliberasi (deliberative), dan sangat menghindari voting, para pendukung deliberasi bersikeras bahwa perdebatan politik yang dilakukan dalam kondisi kebebasan dan kesetaraan adalah komponen penting dari setiap proses pengambilan keputusan yang demokratis, dalam hal ini membentuk preferensi politik, bukan mengagregasi preferensi politik yang sudah ada (voting).
Respon terhadap wacana pembentukan BEM-Universitas mengundang perbedaan pendapat dari berbagai mahasiswa, baik secara individu maupun kelompok (lembaga kemahasiswaan: BEM/Senat Fakultas, HMJ, dan UKM), beberapa kali upaya untuk berkumpul, duduk bersama, dan mendiskusikan, tetap tak berujung pada keputusan bulat.
Ayo kita hadirkan Gramsci!
Andai saja Antonio Gramsci dapat hadir di tengah-tengah diskusi kita, tentu perdebatan dan perbedaan pendapat kita dapat diluruskan olehnya. Kenapa? Saya kenalkan dulu Antonio Gramsci (atau Gramsci) dikenal sebagai salah seorang pemikir kritis abad ini. Meski, di Indonesia namanya kurang dikenal, baru menjelang akhir Orde Baru pemikiran Gramsci mulai banyak diperbincangkan di kalangan aktivis sosial dan politik. Mari kita simak:
Pertama, Gramsci merenungkan dan mewaspadai tendensi reduksionisme dan esensialisme yang melekat dalam banyak pikiran penganut Marxisme maupun non-Marxisme, misalnya saja dalam pandangan Marxisme (ortodoks) percaya bahwa basic-structure ialah ekonomi yang menentukan superstructure (ideologi, politik, pendidikan, budaya, dsb), akibatnya direduksi menjadi ekonomisme dan perjuangan kelas hanya perjuangan kelas ekonomi, sehingga gerakan itu hanya berarti gerakan buruh. Padahal, ada gerakan lain seperti Civil Right Movement, Women Movement, Gerakan Masyarakat Adat, Gerakan Lingkungan, atau bahkan Gerakan Mahasiswa.
Kedua, Gramsci melakukan kritik terhadap kecenderungan positivistik dan mekanistik para Marxisme (ortodoks), salah satu tafsirannya bahwa masyarakat berkembang dan berubah secara linier dari formasi sosial primitif ke feodal, lalu kapitalis (mekanisme eksploitatif), hingga memunculkan revolusi kaum buruh proletar, dan terwujudlah masyarakat Sosialis. Dalam formasi sosial seperti itu ditentukan oleh basis ekonomi yang obyektif, namun dalam pembacaan kehidupan realitas sosial Gramsci yang berada pada kondisi kapitalis yang eksploitatif dan penindasan politik rezim fasisme Mussolini ternyata tidak secara otomatis melahirkan revolusi sosial (proletar), malah muncul gejala menguatnya “de-proletarisasi”, kondisi buruh rela menerima penderitaan, bahkan mendukung keberadaan rezim Mussolini.
Ketiga, lagi, Gramsci melakukan kritik terhadap pendidikan politik indoktrinasi dan pendidikan sebagai penindasan, bagi para Marxisme percaya bahwa pendidikan merupakan bagian dari sistem ekonomi yang dominan dan hanya mereproduksi sistem kapitalisme saja. Gramsci merenungi dan mengeluarkan pemikiran dasarnya mengenai Popular Education dan Participatory Training yang menekankan pembangkitan kesadaran kritis, yaitu upaya untuk senantiasa mengembalikan fungsinya sebagai proses independen untuk transformasi sosial, untuk menyingkirkan segenap ‘tabu’ dan menantang secara kritis hegemoni dominan dalam bentuk sistem dan struktur yang tidak adil.
Keempat, dengan kondisi satu, dua, dan tiga di atas, Gramsci merumuskan teori Hegemoni, baginya proses hegemoni terjadi apabila cara hidup, cara berpikir dan pandangan pemikiran masyarakat bawah (terutama kaum proletar) telah meniru dan menerima cara berpikir dan gaya hidup dari kelompok elit yang mendominasi dan mengeksploitasi mereka.
Kelima, sederhananya kesadaran politik kritis terhadap hegemoni dominan dan sistem yang tidak adil merupakan dasar penting dalam civil society (atau gerakan mahasiswa), dimana masing-masing anggota memiliki kesadaran kritis sebagai intelektual organik, oleh karena itu BEM-Universitas hadir dalam arti membangkitkan kesadaran kritis pada setiap mahasiswa menjadi bagian mendasar bagi pembentukan demokrasi deliberatif (musyawarah).
Sebenarnya, diskusi saya dan kawan-kawan terkait BEM-Universitas hanya ilusi karena kebanyakan memandangi keramaian kota yang dipenuhi perempuan, akhirnya hanya sempat membahas dan menyelesaikan tentang rindu dan manajemen organisasi. Tapi, terkait BEM-Universitas memang sudah seharusnya mendasar pada upaya pendidikan kritis. Bagemana caranya? Mari berkendara!
Oh, iya silahkan cari dan baca lebih mendalam mengenai Pemikiran Antonio Gramsci!

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*