Komite Mahasiswa Unhas sebagai Alternatif

Oleh Merah Berani

Dapat diamati dengan mata kepala masing-masing bahwa kondisi kita hari ini memang tidak jauh dari istilah alienasi, kita terasing dari lingkungan hidup sendiri bahkan lebih dari itu terasing dari diri sendiri.Sebagai mahasiswa, kita bahkan terasing dari kehidupan kampus, terlempar dari segala aspek kehidupan yang menjadikan kita sebagai mahasiswa. Hal ini berawal dari sikap acuh tak acuh (ketidakpedulian) terhadap hal-hal yang terjadi di kampus kita. Berbagai hal yang terjadi misalnya demokrasi kampus yang saat ini terancam, mengapa terancam? Karena ruang mengekspresikan keresahan bisa saja berujung skorsing bahkan keluarnya SK DO. Ideologi kompetisi yang dikedepankan bagi mahasiswa sebagai akibat dari sistem kredit semester yang memaksa kita untuk fokus “belajar” dansegera lulus cepat agar tidak DO. Biaya kuliah yang mahal hingga kepada jam malam yang diberlakukan pihak kampus sehingga ruang bercengkerama untuk mendiskusikan berbagai kondisi sosial masyarakat berkurang.Dampaknya berujung pada kesadaran akan realitas sosial menjadi berkurang hingga “hilang”. Ruang-ruang publik itu malah berganti menjadi ruang kumpul-kumpul para maniak yang fokus pada layar smartphone dan mengabai terhadap orang-orang di sekitarnya maka tidaklah mengherankan jika kita terbungkam dan tertindas oleh sistem yang ada. Hal-hal yang telah diuraikan sebelumnya hanya sebagian kecil dari berbagai masalah serta polemik pendidikan di kampus kita yang telah kita acuhkan.

Lembaga kemahasiswaan seharusnya hadir dengan lebih terorganisir dalam suatu wadah gerakan bersama yang pada dasarnya fokus menanggapi hal-hal demikian dengan mengupayakan propaganda-propaganda guna membagi keresahan ke khalayak umum serta pembasisan melalui konsep pendidikan kritis sebagai antitesa dari pendidikan mainstream hari ini yang kian mematikan jiwa kritis masyarakat. Sebelum membahas mengenai gerakan mahasiswa hari ini dalam suatu wadah untuk menanggapi berbagai isu baik internal maupun eksternal di Universitas Hasanuddin, terlebih dahulu mari kita melihat ke belakang mengenai wadah gerakan mahasiswa di Indonesia yang terorganisir dan independen dengan Pemerintahan Mahasiswa pada saat itu.

 

Pemerintahan Mahasiswa Kemarin

Sebelum masuk pada era orde baru, mahasiswa Indonesia memiliki unsur pemerintahan mahasiswa yang dikenal dengan Dema (Dewan Mahasiswa) dan MM (Majelis Mahasiswa). Dema dan MM mulai dibentuk di Universitas-universitas di Indonesia sejak tahun 1950 sebagai pemerintahan mahasiswa yang independen, gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Pemerintahan Mahasiswa pada saat itu dapat dilihat pasca permasalahan G30S dengan gerakan-gerakan demonstrasi mereka menjadi salah satu bagian bersama rakyat yang berhasil mempreteli pengaruh politik dari Presiden Soekarno sebagai jalan yang memuluskan transisi dari orde lama ke orde baru.

Di awal pemerintahan orde baru, Pemerintahan Mahasiswa masih hadir sebagai kelompok penekan dalam mengkritik kebijakan Pemerintah. Kritik utama mahasiswa terhadap Orde Baru terutama menyangkut kebijakan pembangunan yang timpang dan korupsi yang merajalela(Tirto.id, 2018). Saat itu kesejahteraan ekonomi yang hanya terdistribusi pada sedikit orang menimbulkan kesenjangan sosial serta semakin menguatnya dominasi modal asing akibat dari disahkannya Undang-Undang PMA saat itu.

Seiring dengan berjalannya waktu, pemerintah orde baru mulai resah dengan aksi-aksi protes yang dilakukan oleh Pemerintahan Mahasiswa beberapa diantaranya yakni di  tahun 1974 dan 1978 dengan meletusnya peristiwa Malari serta penolakan terhadap pencalonan diri kembali Soeharto sebagai presiden yang dianggap jauh melenceng dari esensi demokrasi yang didambakan. Menjawab hal itu NKK/BKK pun diberlakukan sehingga berimbas kepada dibekukannya Dewan Mahasiswa.

Setelah berlakunya NKK/BKK, organisasi kemahasiswaan pun divakumkan dan logika yang didengungkan yakni agar mahasiswa kembali ke kampus pada tradisi keilmuan yang diharapkan pemerintahan orba yakni fokus semata pada bidang akademik. Hal tersebut kemudian menyebabkan mahasiswa mencoba beraktivitas  diluar kampus salah satunya seperti menjadi bagian dalam gerakan politik dan hal ini sulit dikontrol oleh pemerintah. Untuk mengatasi hal tersebut NKK/BKK pun dicabut dan digantikan dengan Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK) yang memperbolehkan hadirnya kembali organisasi kemahasiswaan dengan batasan bahwa yang diakui hanyalah Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dan UKM. Hal tersebut dijadikan sebagai taktik agar mahasiswa dapat lebih dikontrol karena aktivitas yang hanya terfokus di lingkup kampus.

 

Lalu Kemudian Apa yang Kita Butuhkan Hari Ini di Unhas?

Hari ini kemudian muncul keinginan yang sangat mendalam terhadap suatu wadah yang independen dan terorganisir guna memperkuat gerakan politik progresif yang berpijak pada kebenaran dan keadilan dalam melawan segala macam bentuk penindasan. Maka dari hal itu untuk melakukan penolakan terhadap sistem yang kian menindas, kita harus membangun model gerakan yang dapat menghadirkan konflik ke atas terhadap penguasa serta meminimalisir konflik terhadap sesama mahasiswa.

Sebagai alternatif sebaiknya kita  dapat membangun gerakan dengan bentukKomite Mahasiswa yang merupakan wadah dalam perancangan rencana strategis pergerakan secara bersama dengan melibatkan keseluruhan mahasiswa dalam suatu lingkup universitas. Dimana hal ini harus lahir berdasarkan kesepakatan dari BEM/Senat dari tiap fakultas, UKM, serta seluruh mahasiswa. Adapun kerangka model gerakan dari  Komite Mahasiswaialah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alur kerja :

  • BEM atau Senat Fakultas, dan UKM membangun kesepahaman bersama dan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU).
  • Komite Mahasiswa merupakan delegasi dari tiap BEM atau Senat Fakultas, UKM, dan Organisasi Intra lainnya
  • Komite Mahasiswa menyusun Draft Rencana Strategis (Renstra) gerakan di Universitas Hasanuddin.
  • Konsolidasi Mahasiswa membahas dan merekomendasikan hasil Draft Renstra, sekaligus mengusulkan anggota Tim Kerja (Tim Investigasi, Humas dan Pendidikan, Agitasi Propaganda).
  • Komite Mahasiswa menetapkan Renstra dan Tim Kerja (Tim Investigasi, Humas dan Pendidikan, Agitasi Propaganda).

 

Komite Mahasiswa Unhas sebenarnya telah dicanangkan dan menjadi pembahasan dalam forum konsolidasi lembaga kemahasiswaan Unhas tahun 2017 lalu, yakni pada konsolidasi di sekretariat Senat FIKP Unhas 24 September 2017 yang dihadiri oleh FKM, FIB, FISIP, F.Pertanian, F.Kehutanan, FEB, FIKP, dan UKPM.Akan tetapi sampai hari ini belum ada penindaklanjutan yang maksimal dari mahasiswa Unhas dikarenakan belum terbangun kesepahaman terkait gerakan horizontal dan partisipatoris ini. Penulis berharap hal ini dapat segera dibahas dengan serius kembali sehingga pengawalan terhadap isu internal maupun eksternal kampus yang berpegang kepada kebenaran dan keadilan serta anti terhadap penindasan dapat dijalankan secara maksimal dalam kebersamaan. Alternatif komite mahasiswa ini hadir sebagai antitesa dari sistem BEM-U yang tidak bersifat partisipatoris dan terikat oleh patron birokrasi kampus.

Sejatinya Institusi Pendidikan Tinggi ada untuk menghadirkan alternatif sistem bukan mempertahankan status-quo para koruptor, penguasa dan birokrasi dzalim. sistem yang rusak tidak akan menghasilkan perubahan yang berarti.

 

Sumber Bacaan:

Firdausi, Fadrik Aziz. 2018. Riwayat Gerakan Mahasiswa: Dari Dema hingga BEM. Dapat diakses pada https://tirto.id/riwayat-gerakan-mahasiswa-dari-dema-hingga-bem-cEpdtanggal akses 3november 2018, pukul 14.14 wita.

KBMP Bali. 2017. Selalu Ada Alternatif: Tak Mungkin Ada Perubahan Melalui Sistem yang Rusak. Dapat diakses pada  https://medium.com/kbmp-bali/selalu-ada-alternatif-tak-mungkin-ada-perubahan-melalui-sistem-yang-rusak-7623603948d3tanggal akses 3november 2018, pukul 14.20 wita.

Narasi Komite Mahasiswa Unhas. 2017.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*