Tokoh Mahasiswa dan Dinamika BEM-U UNHAS

oleh Muhammad Hidayat Djabbari

 

“Kampus adalah tempat untuk belajar dan membangun mahasiswa yang idealis, mahasiswa adalah orang yang otentik dengan intelektual dan kesederhanaan, lembaga kemahasiswaan sebagai tempat untuk memassifkan gerakan mahasiswa bukan untuk beradu ke-egois-an atau kekuatan (Catatan Negeri Sang Pengolah)”

 

Tepat pada saat selesainya proses demokrasi kampus dan selesainya proses penerimaan mahasiswa baru, serta selesainya kabar duka dari pelosok tenggara pulau sulawesi. Aku menemui mahasiswi yang bernama niany, dia adalah mahasiswi disalah satu perguruan tinggi negeri yang hampir menjadi swasta, dia juga adalah mahasiswi yang aktif di organisasi internal kampus dan sebetar lagi kepengurusannya akan diseragamkan sesuai dengan aturan kampus.

 

Aku menemuinya disalah satu sudut kampus tepat dimana dia sering duduk memikirkan keresahannya, kudatanginya dengan wajah yang agak sedikit lusuh karena kepusingan yang kian merasuk kedalam pikiranku. Biasanya saya yang menyapanya duluan, namun kali ini berbeda karena dia yang menyapa dan menegur saya duluan. “Hey” sapaannya kesaya, namun teman disampingnya langsung bernyanyi, “Hey.. Tayo.. Hey.. Tayo”. Setelah itu aku tersenyum dan menghampirinya, “Apa kabar ?”, katanya kesaya, lalu saya jawab “Baik namun sedikit pikiranku agak pusing”, “kenapa kamu pusing ? atau kamu pusing gara-gara gadis sang penyair itu”, sanggahnya kepada saya, dengan kepala agak menunduk saya berkata “bukan soal gadis sang penyair itu (memang sebelumnya aku mencaritakannya tentang seorang penyair yang belakangan ini membuat saya pusing melalui sosial media yang ditulis dalam bentuk puisi karya negeri sang pengolah), tapi ini soal kondisi kampus hari ini yang kondisinya kian mengerikan”, jawab saya. “Loh kok kamu pusing sendiri sedangkan mahasiswa yang lain tidak pusing, mereka biasa-biasa saja dan melaksanakan aktifitasnya seperti biasa” tanya Niany kepada saya, “itulah yang menambah beban pikiran saya bagaimana tidak kondisi kampus yang seperti ini malah mereka tidak menyadari bahkan mereka tidak ambil pusing dengan kondisi kampus yang mengerikan ini” jawab saya.

 

Dengan wajah yang agak cemas Niany-pun mulai bertanya kepada saya, Kondisi kampus hari ini memangnya kenapa ? tanya dia kepada saya. Dengan spontan saya memulai bercerita dan berdiskusi, dengan disahkannya UNHAS sebagai Perguruan tinggi negeri berbadan hukum dan munculnya keputusan rektor ini secara sadar dan tidak sadar merupakan bentuk pengaturan kampus yang sarat akan sikap otoriternya sebagai penguasa kampus, didalam keputusan tersebut terdapat beberapa point yang saya nilai tidak penting untuk untuk mereka urusi, seperti masa kepengurusan lembaga kemahasiswaan yang disamakan/penyamaan masa bakti dan AD/ART lembaga kemahasiswaan yang harus disahkan oleh pihak kampus (sungguh ini akan membatasi ruang gerak lembaga kemahasiswaan kampus, mimbar bebas akan aktifitas dan kreatifitas para aktifis kampus terbatas), dilarang berafiliasi dengan organisasi ekstra kampus (sungguhlah kita membatasi diri dan ruang dalam belajar atau menambah ilmu bagi para mahasiwa yang aktif dilembaga kemahasiswaan, kita tidak akan lagi melihat warna-warni organisasi ekstra dikampus dan HMI, IMM, KAMMI, PMII, GMKI dan lain-lain hanya sampai pada gerbang kampus saja), dan yang terakhir adalah BEM Universitas sebagai Majelis Wali Amanat (BEM-U memang penting untuk diadakan sebagai refresentatif dari pergerakan mahasiswa dikampus, namun karena PTN-BH yang menjadi syaratnya yakni adanya BEM-U sebagai MWA itu yang kita tidak setujui).

Namun yang menarik untuk saya ceritakan adalah BEM-U, karena ini yang masih menjadi pergolakan atau bahkan menjadi dinamika dualisme di beberapa organisasi kemahasiswaan dan ini akan menjadi musuh dalam pelemahan gerakan kemahasiswaan, mandek dan stangnan atau bergerak dengan sendiri-sendiri itu menandakan gerakan itu sangat lemah dan sekali gertakan satpam kampus itu akan kabur, sekali lagi bahwa penting adanya BEM-U bagi mereka yang tanggap akan perubahan dengan alasan yang substansial yakni sebagai refresentatif gerakan kemahasiswaan dikampus dan untuk memassifkan gerakan mahasiswa, namun ketika BEM-U ini diakan hanya karena sebagai prasyarat PTN-BH maka itu berhak dan harus di tolak.

 

Kalau kalangan mahasiswa ini takut/gagap akan perubahan dinamika kampus maka itu adalah cerita yang lain, mahasiswa yang gagap akan perubahan seperti yang ditulis dalam buku predator demonstran karya Rizal Fauzi yang mengutip perkataan Murtadha Muthahhari bahwa penyebab penentangan perubahan itu bukan saja kelompok kapitalis, tetapi juga setiap orang atau kelompok kapitalis, tapi juga setiap orang atau kelompok yang menganggap perubahan akan mengancam stabilitas dan kemapanan status quo, lanjut lagi bahwa kalau alasan ini dijadikan sebagai alasan untuk melakukan penolakan terhadap segala bentuk perubahan  atau ini menjadi sebab sehingga memiliki mintset yang alergi terhadap perubahan dan konsisten terhadap status quo maka akan sulit menerima perubahan walaupun perubahan tersebut mengarah kepada hal yang positif.

 

Maka yang perlu dilakukan oleh lembaga kemahasiswaan yang ikut dalam konsolidasi-konsolidasi dini hari harus segera menyatukan konsep tentang BEM-U ini, tentang konsep yang sesuai dengan kondisi atau kebutuhan gerakan mahasiswa dikampus, bukan menjadi ajang untuk adu ke-egois-an dan power masing-masing lembaga melainkan harus segera membuat goal-goal solusion (seperti dalam teori negosiasi) agar tidak ada yang dirugikan dan masing-masing mengakomodir kepentingan.

 

Niany pun bertanya lagi kepada saya, “terus kalau misalnya BEM-U dikampus kita ini ada dan berjalan, itu dinamika organisasinya bagaimana ?”,tanya dia kepada saya. Dengan eksperesi yang tambah pusing, saya pun mulai menjawab bahwa saya akan berusaha menerawang dan memprediksikan atau berasumsi bagaimana dinamika BEM-U ini, seperti yang terjadi dibeberapa organisasi yang saya kenal yang akan dijadikan itu sebagai landasan dalam memberikan gambaran dinamika BEM-U.

 

Dinamika yang bisa digambarkan adalah dinamika dalam hal pertarungan untuk menjadi ketua umum BEM-U ini, dan dinamika pertarungan BEM-U ini sarat akan kepentingan-kepentingan penguasa (pertarungan antara idealisme mahasiswa dan kepentingan penguasa yang sungkan untuk dikritik), jadi itulah yang akan menjadi dinamika dan mewarnai kehidupan pertarungan memperebutkan ketua umum BEM-U atau bahkan kepentingan yang bertarung ini akan berpengaruh dan turun ke masing-masing BEM Fakultas terutama pertarungan ketua umum dimasing-masing fakultas yang ada, orang akan berusaha menempatkan kadernya difakultas untuk bertarung, apalagi kalau fakultas memiliki lumbung suara dalam pemilikihan ketua umum BEM-U, namun yang menjadi catatan bahwa itu tergantung dari aturan organisasi BEM-U, tapi yang jelas bahwa akan ada dua kubu yang bertarung didalam mendapatkan kekuasaan di BEM-U antara pihak mahasiswa dan birokrasi kampus.

 

“Terus apa yang menjadi kendala dalam menghadapi kondisi kampus dan kemungkinan-kemungkinan terjadinya perubahan dikampus ini ?”, dia bertanya lagi.  “Yang menjadi kendala adalah mahasiswa itu sendiri, karena dialah yang memiliki peran penting dalam menjawab segala permasalah-permasalah kampus”, jawab saya, saya melanjutkan bahwa kehidupan dan sikap mahasiswa ini walaupun tidak bisa digeneralisasikan kepada semua mahasiswa, namun ada beberapa mahasiswa yang memiliki kehidupan seperti tokoh mahasiswa dan ini sangat berpengaruh terhadap gerakan mahasiswa apalagi mahasiswa ini memiliki peran yang strategis dalam lembaga kemahasiswaan.

 

Tokoh mahasiswa yang dimaksud adalah seperti yang dikemukakan Furqan Jurdi dalam buku ideologi gerakan elit IMM bahwa ada kehilangan identitas diri yang sudah “dirampok” oleh kolonialisme modern, media sosial memiskinkan jati diri kita, dan kepalsuan terus mendandani kehidupan kita sementara gerakan membumikan literasi tidak pernah dilakukan, mereka sudah menjadi tokoh sehingga mereka puasa untuk bicara, takut dikutip orang kalau dia bicara, mereka menjadi tokoh dalam kesunyian dan rasa percaya diri yang berlebihan, tak heran banyak yang menjadi tokoh seperti bicaranya irit dan kehidupan bergaya birokrat.

 

Inilah fenomena sebagian mahasiswa yang mengisi dan memiliki peran penting dalam membangun gerakan mahasiswa dikampus kita, maka janganlah jadi mahasiswa atau aktifis seperti tokoh mahasiswa namun jadilah mahasiswa atau aktifis yang otentik dengan intelektualitas dan kesederhanaan karena orang tau bahwa kita aktifis ini adalah orang “kere”, jadi malulah kita ini kalau bergaya seperti tokoh birokrat atau elit karena kita tidak punya kekayaan selain dari isi kepala, serta tidak terhipnotis dengan gemerlapnya modernisasi dan ide gagasan mampu melebihi gaya.

 

Diakhir cerita dan diskusi saya dengan Niany, saya perhatikan raut wajahnya yang bulat itu tampak berkaca-kaca tanpa kaca mata khasnya seperti kacamata bung hatta, lalu saya menghiburnya lewat lagu “karena su sayang” dan lagu “Hey…Tayo…Hey…Tayo..Dia Sang Gadis Penyair”, tidak terasa senja sudah beranjak petang akhir dari diskusi saya bersama Niany.

 

Foto : Jude al Ginger

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*