Sepakbola adalah Senjata

Sepakbola adalah Senjata

oleh : Azwar Radhif

Romantisme sepakbola dan musik telah terjadi beberapa abad silam. Dalam tradisi kelas pekerja eropa, musik dan olahraga menjadi alternatif untuk melepas keterasingan dalam relasi produksi Kapitalisme. Penggabungan sepakbola dan musik bukan hanya terjadi ketika pertandingan berlangsung, saat kelompok suporter menyanyikan chants untuk mendukung tim jagoannya. Melampaui itu, sepakbola dan musik punya sejarah yang panjang dengan berbagai role perjuangan, menghadapi berbagai rezim penguasa, dan ditengah berondolan senapan aparatus represif dan ormas. Internalisasi ideologi kedalam sepakbola dan musik perlahan membentuk pola gerakan sosial baru, mulai dari berbagai latar belakang sosial dan isu yg diperjuangkan. Sebut saja bagaimana latar belakang terbentuknya tim* di inggris yang dipelopori oleh pekerja, seperti liverpool, arsenal dll. Spirit perjuangan kelas termanifestasikan dalam sepakbola menghadirkan ideologi politik. Ya meskipun hari ini, industri sepakbola modern terkesan memberatkan rakyat misqueen untuk mendukung tim idolanya di stadion, salah satunya mahal nya harga tiket sehingga akses terhadap apa yang telah mereka bangun menjadi sulit. Terlebih lagi apabila harga tiket yang dibayar tak sesuai dengan fasilitas yang diterima. Dapat dirasakan ketika menonton laga home PSM Makassar di Mattoanging. Dengan kondisi stadion yang jauh dari kesan nyaman untuk para pendukung tim sekelas PSM.

Kedekatan sepakbola dan politik kian memanas, ketika sepakbola dijadikan kendaraan politik rezim yang berkuasa untuk mengontrol keseimbangan masyarakat. Hal ini terlihat saat franco berkuasa di spanyol, pertarungan ideologi tersaji dalam derby el clasico, saat madrid yang didukung penuh oleh rezim menghadapi barca yang didukung oleh spirit revolusi dan pembebasan Catalan. Kelompok suporter pun mengadposi kebiasaan tersebut dengan membentuk kelompok* ideologis yang memiliki misi memperjuangkan visi perjuangan. Mulai dari ultra kanan konservatif seperti kemunculan neo-nazi, white supremacy, hingga ultra kiri anarkis-komunis like antifa dan kamerad*nya.

Perlahan sepakbola sebagai kebiasaan melepas penat di waktu libur kerja menjadi media perjuangan. Beberapa genre suporter membentuk budaya tanding, menghadapi hegemoni kapitalisme yang telah merasuk kedalam nyaris seluruh aspek kehidupan. Di Italia terkenal dengan kelompok suporter ultrasnya yang muncul sebagai kritik industri sepakbola modern. Di inggris dengan hooligannya yang mengangkat isu budaya populer dengan ciri khas casualnya. Ada banyak sekali tipologi suporter di belahan dunia lainnya, sebut saja barras-bravas di latin, hingga budaya Mania di Indonesia. Kelahiran budaya kelompok suporter sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi-politik di masanya. Di itali dan spanyol misal, kemunculan kelompok suporter dilatarbelakangi berkuasanya rezim fasis. Di Inggris, holiganisme berkembang seiring dengan perkembangan budaya berpakaian melalui media massa. So, bagaimana dengan budaya mania?

Sejauh ini beberapa hambatan yang terlihat, kurangnya dokumentasi terkait yang menjelaskan bagaimana kemunculan trend mania di Indonesia, pendokumentasian dan pengarsipan akan menjadi sangat penting untuk memaknai sisi historikan dan konteks yang menjadi awal pembentukan dan dinamikanya hingga saat ini. Ini juga dapat melacak akar konfllik antar suporter yang memanas belakangan ini. Bisa saja kemunculan mania sebagai bentuk penciptaan budaya suporter yang berasaskan identitas kedaerahan dan kearifan lokal. Meskipun kerap kali semangat-semangat identitas lokalitas menjadi fanatisme sehingga kerap kali terjadi benturan hingga beberapa suporter meregang nyawa. Perilaku kekerasan memang identik dengan sepakbola. Dalam beberapa genre suporterpun, open fight menjadi ciri khas dalam mendukung tim, seperti hooligan di Inggris yang sering konflik dengan basis kelompok lain, sampai sebagian besar ultras yang menjadikan polisi sebagai musuh utama. Meskipun tindakan kekerasan tidak dibenarkan, sebagian melakukannya sebagai bentuk defence, terutama menghadapi represifitas aparat.

Kemunculan gerakan sosial alternatif membawa semangat baru dalam perjuangan dan perubahan sosial. Sepakbola dan musik dapat menjadi wadah perjuangan apabila diitegrasikan kembali. Basis pendukung yang loyal sampai solidaritas kelompok dapat menjadi modal utama untuk menggagas budaya tanding. Mindset yang harus dibenahi adalah sepakbola dan musik bukan hanya sebatas hobi dan minat semata, latar belakang sejarah menunjukkan bagaimana sepakbola dan musik terlibat aktif dalam gerakan sosial.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*